Jakarta, 11 Agustus 2026 — Fenomena pinjaman online tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan finansial, tetapi juga dipengaruhi budaya konsumtif dan tekanan gaya hidup yang berkembang di media sosial. Praktisi Kehumasan dan Pakar Budaya Digital Dr. Rulli Nasrullah, M.Si., menyampaikan bahwa kemudahan mendapatkan pinjaman dapat mendorong seseorang mengambil keputusan finansial secara impulsif.
Dalam Webinar “Waspada Pinjaman Online”, Rulli menjelaskan bahwa pinjaman online menawarkan proses yang sangat praktis. Kemudahan tersebut membuat sebagian masyarakat menganggap pinjaman sebagai solusi instan ketika membutuhkan uang.
Menurutnya, persoalan menjadi lebih kompleks ketika pinjaman digunakan bukan untuk kebutuhan mendesak atau produktif, melainkan untuk memenuhi tuntutan gaya hidup. Media sosial dapat memperkuat perilaku tersebut melalui fenomena fear of missing out (FOMO) dan budaya flexing, ketika seseorang merasa harus mengikuti tren, membeli barang bermerek, menggunakan gawai terbaru, atau mendatangi tempat yang sedang populer.
Rulli menilai kebiasaan tersebut dapat berkembang menjadi pola ketergantungan. Seseorang yang terus menggunakan pinjaman atau fasilitas pay later untuk memenuhi keinginan berisiko mengalami kesulitan ketika tagihan mulai menumpuk.
Ia juga mengingatkan bahwa promosi pinjaman sering kali menampilkan cicilan yang terlihat ringan, sementara masyarakat belum tentu memperhitungkan keseluruhan biaya yang harus dibayarkan. Rendahnya literasi keuangan kemudian dapat membuat seseorang tidak menyadari kemampuan finansial sebenarnya.
Untuk mencegah kondisi tersebut, masyarakat diminta membangun kontrol diri dan membedakan kebutuhan dengan keinginan. Rulli mendorong keluarga agar terbuka dalam membicarakan persoalan keuangan sehingga masalah utang tidak disembunyikan hingga menjadi semakin berat.
Sementara itu, bagi masyarakat yang sudah mengalami intimidasi akibat pinjaman online ilegal, ia mengingatkan agar tidak takut mencari bantuan. Bukti berupa pesan, rekaman, atau bentuk ancaman lainnya perlu disimpan dan dapat dilaporkan kepada pihak yang berwenang apabila penagihan telah mengarah pada tindakan melanggar hukum.
Rulli menegaskan bahwa literasi keuangan dan kemampuan mengendalikan diri merupakan bagian penting dari budaya digital yang sehat. Masyarakat harus mampu menggunakan teknologi secara bijak agar ruang digital tidak berubah menjadi sumber tekanan finansial.






