Program MBG Gerakkan Pertanian, UMKM, dan Koperasi melalui Rantai Pasok Pangan Lokal

Jendelakaba.com — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dinilai telah menjadi motor penggerak ekonomi daerah melalui penguatan rantai pasok pangan yang melibatkan petani, peternak, nelayan, koperasi, Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), hingga pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).

Hal tersebut disampaikan Direktur Promosi dan Edukasi Gizi, Dr. Gunalan A.P., M.Si., dalam Webinar “Makan Gizi Gratis: Stimulus Ekonomi Rakyat dan Kedaulatan Nasional”.

Menurutnya, Program MBG merupakan investasi jangka panjang pemerintah untuk menciptakan sumber daya manusia yang sehat, cerdas, dan produktif sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional.

Ia menjelaskan bahwa kepastian permintaan bahan pangan dari dapur-dapur MBG telah mendorong banyak masyarakat kembali mengembangkan sektor pertanian dan usaha pangan lokal karena tersedianya pasar yang berkelanjutan.

“Hingga saat ini, program telah menjangkau lebih dari 62 juta penerima manfaat yang terdiri atas peserta didik, ibu hamil, ibu menyusui, balita, serta guru dan tenaga pendidik,” ujarnya.

Gunalan menambahkan bahwa ribuan pemasok yang berasal dari koperasi, BUMDes, UMKM, serta berbagai mitra lokal menjadi bagian penting dalam keberhasilan pelaksanaan program tersebut. Mekanisme pembayaran yang lebih pasti juga dinilai membantu menjaga keberlangsungan usaha para pemasok.

Ia juga menjelaskan bahwa pemerintah terus memperluas pembangunan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di berbagai wilayah dengan dukungan sistem pemantauan berbasis digital agar kualitas pelayanan tetap sesuai standar.

Menurutnya, Program MBG tidak hanya meningkatkan kualitas gizi masyarakat, tetapi juga memperkuat aktivitas ekonomi desa melalui transaksi pembelian bahan pangan setiap hari, pembukaan lapangan kerja baru, serta pemberdayaan pelaku usaha lokal.

“Program ini merupakan instrumen strategis dalam memperkuat ekonomi rakyat sekaligus menjaga kedaulatan nasional melalui peningkatan kualitas sumber daya manusia dan ketahanan pangan,” pungkasnya.***