Jendelakaba.com – Optimalisasi teknologi digital dinilai menjadi salah satu kunci penting bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Kabupaten Majalengka untuk memperluas pasar, meningkatkan daya saing, sekaligus menjaga keberlanjutan usaha di tengah perubahan perilaku konsumen.
Hal tersebut disampaikan Anggota Komisi I DPR RI, Dr. H. Jefry Romdonny, M.Si., M.M., dalam Sosialisasi Merajut Nusantara bertema “Optimalisasi Teknologi Digital untuk Pengembangan UMKM Berkelanjutan”, Selasa (18/8/2026).
Jefry menegaskan, pemanfaatan teknologi digital bukan sekadar mengikuti perkembangan zaman, tetapi menjadi jawaban atas tantangan sekaligus peluang yang dihadapi pelaku UMKM.
Menurutnya, perubahan teknologi pada dasarnya tidak menghilangkan kebutuhan manusia terhadap konektivitas. Jika dahulu komunikasi membutuhkan surat dan perangko, kini informasi dapat disampaikan dalam hitungan detik melalui internet. Kondisi serupa juga terjadi dalam dunia usaha.
“Kalau dulu cukup memiliki toko fisik dan menunggu pembeli datang, sekarang pelaku UMKM harus hadir di ruang digital,” ujarnya dalam pemaparan.
Ia menyebut Google, WhatsApp, Instagram, TikTok, hingga marketplace sebagai ruang yang perlu dimanfaatkan pelaku usaha untuk memperkenalkan produk sekaligus membangun hubungan dengan pelanggan.
Jefry menilai Majalengka memiliki potensi besar untuk mengembangkan UMKM di sektor pertanian, pengolahan hasil pertanian, kerajinan, kuliner, dan ekonomi kreatif. Potensi tersebut akan semakin kuat apabila dipadukan dengan teknologi digital.
Menurutnya, keberadaan infrastruktur transportasi seperti Tol Cipali telah membuka akses distribusi yang lebih cepat dari Majalengka menuju Jakarta dan wilayah lainnya. Namun, infrastruktur fisik saja belum cukup untuk memastikan produk UMKM mampu bersaing.
“Jalan tol mempercepat distribusi barang, sedangkan teknologi digital mempercepat datangnya pelanggan,” katanya.
Ia mencontohkan produk lokal seperti kerupuk, mangga gincu, maupun jambu Majalengka yang dapat dikirim dalam waktu relatif singkat. Namun, produk tersebut tidak akan memperoleh pasar yang optimal apabila tidak tersedia di marketplace, tidak memiliki konten promosi menarik, dan tidak aktif dipasarkan melalui media sosial.
Untuk mendorong UMKM naik kelas, Jefry menyampaikan tiga langkah utama, yakni meningkatkan literasi digital, mendorong inovasi, serta memperkuat kolaborasi.
Literasi digital, kata dia, tidak cukup sebatas kemampuan menggunakan aplikasi. Pelaku UMKM juga harus mampu membaca data penjualan, menjaga keamanan transaksi, memahami kebutuhan konsumen, serta memanfaatkan komentar dan ulasan pelanggan sebagai bahan evaluasi.
Sementara inovasi dapat dilakukan melalui kemasan yang menarik, pelayanan yang cepat, serta kemampuan membaca tren pasar. Prinsip amati, tiru, dan modifikasi (ATM) juga dapat digunakan untuk mempelajari praktik terbaik dengan tetap menciptakan identitas usaha sendiri.
Pemanfaatan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), lanjutnya, juga dapat membantu pelaku UMKM dalam membuat desain, konten promosi, maupun strategi pemasaran. Namun, penggunaannya harus dilakukan secara bijak dan bertanggung jawab.
Selain itu, Jefry menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, lembaga keuangan, komunitas, dan platform digital. Kolaborasi antar-UMKM juga diperlukan agar pelaku usaha tidak berjalan sendiri-sendiri.
Ia berharap kegiatan tersebut dapat melahirkan gagasan baru, memperkuat jejaring, serta mendorong langkah nyata agar UMKM Majalengka semakin modern, mandiri, dan mampu bersaing di tingkat nasional maupun global.
Jefry kemudian secara resmi membuka kegiatan sebelum meninggalkan forum untuk mengikuti rapat paripurna DPR RI.***






