Majalengka – Digitalisasi UMKM tidak cukup hanya dengan memiliki akun media sosial. Pelaku usaha perlu membangun ekosistem digital yang mencakup pemasaran, transaksi, pengelolaan pelanggan, pembukuan, hingga analisis data.
Dewan Pengawas BAKTI Komdigi Virgie Baker, S.S., M.Si., menyampaikan hal tersebut dalam Sosialisasi Merajut Nusantara bertema “Optimalisasi Teknologi Digital untuk Pengembangan UMKM Berkelanjutan”, Senin, 28 September 2026.
Virgie mengatakan, Indonesia memiliki sekitar 65 hingga 66 juta UMKM pada 2026. Namun, jumlah UMKM yang telah masuk ekosistem digital baru sekitar 25 hingga 30 juta.
Menurutnya, perubahan perilaku konsumen membuat kehadiran digital semakin penting. Konsumen kini terbiasa mencari produk melalui internet, membaca ulasan, membandingkan harga, melihat rating, kemudian melakukan transaksi secara digital.
“UMKM yang tidak hadir secara digital akan sulit ditemukan. Kalau tidak ditemukan, pembelinya akan berkurang,” ujarnya.
Ia menjelaskan, memulai usaha secara digital juga dapat dilakukan dengan biaya relatif lebih rendah dibandingkan membuka toko fisik. Pelaku usaha dapat memulai dari WhatsApp Business, kemudian mengembangkan ke Google Business Profile, marketplace, website, hingga sistem pengelolaan pelanggan.
Namun, Virgie mengingatkan bahwa memiliki akun media sosial belum otomatis membuat sebuah UMKM berhasil secara digital.
Menurut dia, terdapat sejumlah tanda bahwa digitalisasi belum memberikan manfaat optimal, antara lain ketergantungan pada satu marketplace, tidak memiliki database pelanggan sendiri, serta belum menerapkan sistem keuangan digital.
Karena itu, pelaku usaha disarankan memiliki lebih dari satu kanal penjualan dan membangun database pelanggan yang dapat dikelola secara bertanggung jawab.
Ia juga menekankan pentingnya kecepatan pelayanan. Konsumen dapat berpindah ke toko lain apabila pertanyaan lambat dijawab, pelayanan kurang ramah, atau kualitas barang tidak sesuai dengan informasi yang ditampilkan.
Tahapan transformasi digital, menurut Virgie, dapat dimulai dari membangun kehadiran dasar. WhatsApp Business perlu dilengkapi profil usaha dan katalog produk yang jelas. Pelaku usaha juga dapat mendaftarkan bisnisnya di Google Business Profile agar lebih mudah ditemukan melalui Google Maps.
Tahap berikutnya adalah membangun aset digital sendiri, seperti website sederhana, landing page, marketplace, dan database pelanggan. Setelah itu, UMKM dapat masuk ke tahap otomasi melalui iklan digital yang terukur dan pemanfaatan data analitik.
Virgie juga mengingatkan pentingnya membangun identitas produk. Nama, logo, kemasan, kualitas, serta karakter produk harus konsisten agar mudah dikenali konsumen.
Selain itu, pelaku usaha perlu memahami target pasar dan keunikan produknya. Keunggulan dapat berasal dari rasa, desain, bahan, pelayanan, maupun karakter produk yang tidak mudah ditemukan pada kompetitor.
“Pelaku UMKM harus menentukan keunikan produknya,” katanya.
Dalam sesi tersebut, Virgie juga menjelaskan peran BAKTI Komdigi dalam memperluas konektivitas di daerah yang belum terjangkau jaringan secara memadai. Setelah akses tersedia, literasi dan edukasi diperlukan agar masyarakat mampu memanfaatkan konektivitas tersebut untuk pendidikan dan kegiatan ekonomi.
Ia menyebut edukasi juga dilakukan melalui kerja sama dengan kementerian, komunitas, operator, DPR RI, hingga LKBN Antara untuk membantu masyarakat meningkatkan kualitas produk, membuat katalog, dan mengembangkan pemasaran.
Sementara itu, Dosen STKIP Melawi Ahmad Khoiri, M.Pd., menekankan bahwa keberlanjutan UMKM harus memperhatikan aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan.
Dari sisi lingkungan, UMKM didorong menggunakan perangkat hemat energi, mengurangi sampah kemasan, serta menerapkan prinsip 3R, yakni reduce, reuse, dan recycle.
“Keberlanjutan tidak boleh berhenti pada tataran konsep, tetapi harus diikuti pelatihan dan pendampingan,” kata Ahmad.
Ia menilai teknologi pada akhirnya hanyalah alat. Faktor manusia, kreativitas, strategi bisnis, dan kemampuan mengelola data tetap menjadi penentu penting agar digitalisasi benar-benar meningkatkan produktivitas UMKM.






