Digitalisasi Buka Peluang UMKM Madura Naik Kelas hingga Pasar Global

Jendelakaba.com — Digitalisasi membuka peluang besar bagi pelaku UMKM Madura untuk memperluas pasar, memperkuat branding dan mengembangkan usaha hingga menjangkau konsumen di berbagai daerah bahkan pasar global.

Potensi tersebut menjadi salah satu pembahasan utama dalam Sosialisasi Merajut Nusantara bertajuk “Mewujudkan Masyarakat Madura Cakap Digital: Aman, Cerdas, Berbudaya, dan Beretika di Ruang Digital”, Jumat, 25 September 2026.

Rektor Universitas Pertiwi, Dr. Arif Nugroho, B.Eng., M.Sc., mengatakan digitalisasi bukan sekadar penggunaan teknologi, tetapi merupakan cara baru dalam menciptakan nilai dan membuka peluang ekonomi.

Ia memaparkan, berdasarkan data yang disampaikannya, Indeks Masyarakat Digital Indonesia (IMDI) 2025 mencapai 44,53 secara nasional, meningkat 1,19 poin dibandingkan tahun 2024.

Menurutnya, tantangan selanjutnya adalah bagaimana keterampilan digital tersebut dapat diterjemahkan menjadi produktivitas dan peluang ekonomi yang nyata bagi masyarakat.

Arif menyebutkan, terdapat 339 desa di Indonesia yang telah berhasil mengekspor produk unggulannya dengan total nilai ekspor mencapai Rp916,09 miliar ke 59 negara tujuan. Produk tersebut antara lain gula aren, kopi, hasil pertanian organik, rempah, ikan hias, rumput laut, arang, vanila, bulu mata dan minyak kelapa.

Ia menilai Madura memiliki potensi serupa melalui berbagai produk unggulan dan kekayaan lokal yang dimiliki masyarakat.

Untuk mendorong UMKM Madura masuk ke ekosistem digital, pelaku usaha perlu mengenali produk unggulan dan keunikannya, menentukan target konsumen, memanfaatkan marketplace dan media sosial, membangun katalog digital, serta mengelola pesanan, ulasan dan pelanggan.

“Jangan hanya hadir online, tetapi harus mudah ditemukan, dipercaya, dan dibeli,” jelasnya.

Menurut Arif, marketplace dan media sosial memiliki fungsi yang berbeda. Marketplace dapat dimanfaatkan sebagai tempat transaksi, sedangkan media sosial berperan membangun perhatian, komunikasi dan kepercayaan konsumen.

Ia juga menyoroti pentingnya penggunaan pembayaran digital melalui QRIS. Berdasarkan data yang dipaparkannya, pada semester I 2025 terdapat 39,3 juta merchant QRIS, dengan 93,16 persen di antaranya merupakan UMKM. Total transaksi mencapai 6,05 miliar dengan nilai Rp579 triliun secara nasional.

Selain transaksi digital, pencatatan keuangan juga menjadi bagian penting dalam digitalisasi UMKM. Pelaku usaha diingatkan agar mampu membedakan omzet, laba dan uang kas.

Pencatatan harian setidaknya mencakup penjualan, modal atau harga pokok produksi, biaya operasional, utang atau piutang dan saldo kas.

Dalam membangun merek, Arif juga mengingatkan pelaku UMKM agar tidak hanya menjual produk, tetapi turut menjual cerita, keunikan dan kepercayaan.

Konsistensi cerita, identitas visual, kualitas produk, pelayanan dan nilai lokal dinilai penting dalam membangun personal branding maupun product branding.

Ia juga mendorong pelaku UMKM memanfaatkan kecerdasan buatan atau AI sebagai asisten produktivitas. AI dapat digunakan untuk mencari ide konten, membuat draf promosi, menerjemahkan, merangkum data pelanggan dan membantu analisis sederhana.

Namun, penggunaan AI tetap harus disertai verifikasi informasi, perlindungan data pribadi dan rahasia usaha serta penyesuaian dengan konteks lokal.

Arif menegaskan, digitalisasi tidak berarti membuat Madura menjadi seperti daerah lain. Sebaliknya, teknologi harus digunakan untuk memperkenalkan keunggulan Madura kepada masyarakat yang lebih luas.

“Madura punya produk, Madura punya cerita, Madura punya talenta. Tugas kita adalah menghubungkannya dengan dunia,” ujarnya.***