Relawan Kebajikan Pancasila Didorong Jadi Pelopor Gotong Royong dan Anti-Hoaks

Jendelakaba.com — Relawan Gerakan Kebajikan Pancasila didorong tidak berhenti pada penyampaian pesan kebangsaan, tetapi mampu menjadi teladan sekaligus penggerak kegiatan sosial di tengah masyarakat. Hal tersebut disampaikan Akademisi Universitas Muhammadiyah Bengkulu, Dr. Elfahmi Lubis, S.H., dalam kegiatan Relawan Gerakan Kebajikan Pancasila di Kota Bengkulu, Provinsi Bengkulu, Minggu (20/9/2026).

Elfahmi menjelaskan bahwa Gerakan Kebajikan Pancasila merupakan gerakan moral dan sosial yang mengubah nilai menjadi sikap, kemudian diwujudkan dalam aksi nyata.

Menurutnya, Pancasila harus hadir dalam kehidupan sehari-hari melalui gotong royong, toleransi, kepedulian sosial, persatuan, dan penghormatan terhadap sesama.

“Relawan bukan hanya menyampaikan pesan, tetapi juga harus menjadi teladan hidup bagi masyarakat di sekitarnya,” menjadi salah satu penekanan dalam pemaparannya.

Ia menjelaskan bahwa Pancasila memiliki kedudukan sebagai dasar negara, pandangan hidup, ideologi negara, sekaligus sumber hukum. Pancasila juga menjadi titik temu berbagai perbedaan agama, suku, ras, dan budaya dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Di tengah perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan, Elfahmi memperkenalkan gagasan Pancasila sebagai living ideology atau ideologi yang hidup.

Menurutnya, perubahan yang berlangsung cepat akibat revolusi digital, globalisasi, perubahan iklim, dan ketidakpastian ekonomi membutuhkan keteguhan nilai. Karena itu, Pancasila harus menjadi pedoman yang benar-benar diterapkan dalam kehidupan masyarakat.

Dalam paparannya, Elfahmi menyampaikan lima peran utama Gerakan Kebajikan Pancasila. Pertama, menjadikan nilai Pancasila sebagai tindakan nyata. Kedua, menjadi penggerak masyarakat. Ketiga, menangkal hoaks dan disinformasi melalui literasi serta nalar kritis. Keempat, menjaga kohesi sosial. Kelima, menghidupkan nilai-nilai luhur bangsa di tengah tantangan era digital.

Ia juga memberikan sejumlah contoh penerapan nilai Pancasila. Nilai Ketuhanan dapat diwujudkan melalui toleransi dan gotong royong lintas iman. Nilai Kemanusiaan melalui bantuan bencana, pemeriksaan kesehatan, dan santunan.

Sementara nilai Persatuan dapat diwujudkan melalui dialog antarkampung, kegiatan budaya, serta kampanye anti-hoaks dan ujaran kebencian. Nilai Kerakyatan dapat diterapkan dengan membuka ruang aspirasi masyarakat, sedangkan Keadilan Sosial dapat diwujudkan melalui dukungan terhadap UMKM, pelatihan, beasiswa, bedah rumah, bank sampah, dan bantuan hukum.

Untuk memperkuat gerakan tersebut, Elfahmi mendorong empat langkah, yakni penguatan kapasitas diri, penguatan jaringan, penguatan program, serta penguatan komunikasi.

Ia juga menegaskan bahwa Gerakan Kebajikan Pancasila bukan organisasi yang dibentuk untuk kepentingan politik elektoral maupun kelompok tertentu. Gerakan tersebut diarahkan sebagai gerakan moral kebangsaan yang berfokus pada keteladanan dan pengamalan nilai Pancasila.

Dalam kesempatan yang sama, Anggota DPR RI Komisi XIII, Hj. Eko Kurnia Ningsih, mengajak masyarakat Bengkulu untuk mempraktikkan Pancasila melalui kehidupan bertetangga.

Ia mengingatkan pentingnya menjaga ucapan, membantu warga yang mengalami kesulitan, menghormati perbedaan, serta tidak mudah menyebarkan informasi yang belum diketahui kebenarannya.

Menurut Eko, menjaga persatuan tidak selalu membutuhkan tindakan besar. Sikap tidak memprovokasi, tidak memperkeruh persoalan, dan tetap menghormati orang lain meskipun berbeda pendapat juga merupakan bentuk pengamalan Pancasila.

Sementara Jackson Simamora, S.H., M.Si., Analis Hukum Ahli Madya BPIP RI, menekankan bahwa Demokrasi Pancasila bertumpu pada politik yang partisipatif, ekonomi yang berkeadilan, dan penghormatan terhadap HAM.

Ia menyebut ketiga pilar tersebut perlu berjalan bersama untuk mewujudkan kedaulatan rakyat sekaligus memperkuat kehidupan demokrasi Indonesia.

Melalui kegiatan tersebut, para peserta diajak menjadikan Pancasila bukan sekadar nilai yang dihafalkan, tetapi sebagai pedoman yang diwujudkan melalui kebajikan, gotong royong, kepedulian, toleransi, serta tindakan nyata yang memberikan manfaat bagi masyarakat.***