BERIBADAH RAHASIA AGAR BERBAHAGIA

Khazanah

 

 

Oleh : Syaiful Anwar

Dosen FE Unand Kampus II Payakumbuh 

 

“Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah [2]: 21) 

 

Jika Anda ingin memahami bagaimana ibadah merupakan sebuah perniagaan agung dan kebahagiaan terbesar, serta sikap fasik dan bodoh merupakan kerugian dan kebinasaan yang nyata, perhatikan cerita berikut ini: 

 

Pada suatu hari, dua orang prajurit menerima perintah untuk pergi ke sebuah kota yang jauh. Pada awal-awal perjalanan, mereka bersama-sama sampai akhirnya berpisah. Sebelum berpisah, keduanya bertemu dengan seorang lelaki yang berkata pada mereka, 

 

“Jalan sebelah kanan ini, disamping tidak mengandung bahaya, sembilan dari sepuluh musafir yang melaluinya akan menemukan kelapangan, ketenangan, dan keberuntungan. Sementara, jalan sebelah kiri tidak bermanfaat. Sembilan dari sepuluh para pelintasnya mengalami kerugian besar.” Perlu diketahui bahwa kedua jalan tersebut memiliki jarak yang sama. Yang membedakan hanya satu, yaitu pejalan yang melalui sisi kiri–yang tidak mau terikat dengan peraturan–tidak membawa tas barang dan senjata sehingga seolah-olah perjalanan menjadi ringan dan nyaman. Sebaliknya, pejalan yang melalui sisi kanan yang terikat dengan posisi dirinya sebagai prajurit harus membawa bekal berisi perbendaharaan makanan seberat 4 kilo dan senjata negara seberat 2 kilo di mana dengan itu bisa mengalahkan semua musuh. 

 

Setelah kedua prajurit itu mendengar ucapan pemberi petunjuk tadi, orang yang bahagia melewati jalan sebelah kanan. Ia berjalan seraya memikul sejumlah beban namun hatinya tenang dan jiwanya bebas dari segala ketakutan. Adapun orang yang malang enggan menjadi prajurit dan tidak mau terikat peraturan. Dia meniti jalan sebelah kiri. Meski fisiknya bebas dari beban, namun kalbunya dibayang-bayangi oleh rasa berutang budi dan jiwanya tersiksa oleh berbagai kecemasan yang tak terhingga. Ia melintasi jalannya dengan terus mengemis kepada setiap orang serta cemas dengan segala hal, dan takut terhadap semua kejadian. Ketika sampai di tempat tujuan, ia mendapatkan hukuman sebagai balasan atas sikapnya yang lari dan membangkang. 

 

Adapun pejalan yang melintasi jalan sebelah kanan, yang patuh dengan aturan keprajuritan serta menjaga tas dan senjatanya,  berjalan dalam kondisi lapang dan jiwanya tenang tanpa harus mengharap budi baik orang atau takut kepada siapapun. Ketika sampai di kota tujuan, di sana ia mendapatkan upah yang sesuai dengannya sebagai prajurit yang telah menyelesaikan tugas dengan baik. 

 

Ketahuilah, bahwa salah satu dari kedua musafir di atas adalah mereka yang taat terhadap hukum Ilahi, sementara yang lain adalah para pembangkang yang mengikuti hawa nafsu. Sementara, jalan tersebut adalah kehidupan yang berasal dari alam arwah, kemudian melintasi kubur guna menuju alam akhirat. 

 

Tas dan senjatanya berupa ibadah dan takwa. Betapapun ibadah tampak berat, sebenarnya ia berisi kelapangan yang tak terlukiskan. Hal itu karena seorang abid dalam shalatnya mengucap la ilaha illallah. Artinya, tiada Pencipta dan Pemberi rezeki selain Allah. Manfaat dan bahaya berada di tangan-Nya. Dia Mahabijak yang tidak berbuat sia-sia. Dia juga Maha Penyayang yang kasih sayang dan kebaikan-Nya berlimpah. 

 

Orang yakin dengan ucapannya. Karena itu, dalam segala hal ia menemukan pintu yang terbuka menuju perbendaharaan rahmat Tuhan sehingga ia ketuk pintu tersebut dengan doa. Ia pun melihat segala sesuatu tunduk atas perintah-Nya, sehingga ia bersimpuh di hadapan-Nya dengan sikap merendah. Ia membentengi diri di hadapan semua musibah dengan sikap tawakal sehingga imannya membuat dirinya merasa aman dan tenang. 

 

Ya, sumber keberanian serta seluruh kebahagiaan hakiki adalah iman dan pengabdian. Sebaliknya, sumber ketakutan serta seluruh keburukan adalah kesesatan. Andaikata bumi menjadi bom yang bisa meledak, barangkali ia tidak akan membuat takut sang abid yang memiliki kalbu yang bersinar. Bahkan, bisa jadi ia melihatnya sebagai salah satu qudrat Tuhan yang luar biasa sehingga ia merasa kagum dan senang. Sebaliknya, seorang fasik yang kalbunya mati, meski ia seorang filosof yang dianggap cerdas, apabila melihat meteor di angkasa ia akan takut dan cemas seraya bertanya-tanya, “Mungkinkah bintang ini menabrak bumi kita?” Ia terempas dalam lembah ilusi.  

 

Karena itu, jiwa manusia yang lemah dan tak berdaya benar-benar membutuhkan berbagai hakikat ibadah dan tawakal, serta tauhid dan sikap pasrah. Keuntungan, kebahagiaan, dan nikmat yang didapat darinya juga sangat besar. Siapa yang penglihatannya masih sehat pasti bisa melihat dan menjangkaunya. Pasalnya, seperti diketahui bahwa jalan yang tidak berbahaya tentu lebih dipilih daripada jalan yang berbahaya meski kemungkinan manfaat yang ada padanya satu banding sepuluh. Terlebih persoalan ini, yakni jalan ibadah, disamping tidak berbahaya dan kemungkinan manfaatnya sembilan puluh persen, ia juga memberikan kepada kita perbendaharaan kebahagiaan abadi. Sebaliknya, jalan kefasikan dan kebodohan–seperti pengakuan si fasik itu sendiri– disamping tidak memberi manfaat, ia juga menjadi sebab datangnya derita dan kebinasaan abadi diserta kerugian dan tidak adanya kebaikan. Ini sudah menjadi kepastian dan kesepakatan para ulama. Ia adalah sebuah keyakinan yang kuat sesuai dengan informasi dari kalangan yang mencapai tingkat kasyaf. 

 

Dari sini dapat disimpulkan bahwa sebagaimana akhirat, kebahagiaan dunia juga terletak pada ibadah dan seberapa taat kita menjadi hamba Allah. 

#Syaiful_Anwar

#Fakultas_Ekonomi

#Universitas_Andalas

#Kampus2_Payakumbuh

#Tuhan_Tidak_Pernah_Buta

#Beribadah_Rahasia_Agar_Berbahagia

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *