Jakarta, 22/7/26 – Ketahanan mental generasi muda tidak dapat dibangun oleh satu pihak saja. Dibutuhkan kolaborasi antara keluarga, sekolah, pemerintah, tenaga kesehatan, media, dan masyarakat dalam menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuh kembang anak. Hal tersebut disampaikan Dosen STKIP Melawi, Ahmad Khoiri, M.Pd., dalam webinar “Gizi Cukup, Literasi Maju: Membangun Ketahanan Mental Generasi Mendatang”.
Menurut Ahmad Khoiri, kecukupan gizi, kemampuan literasi, dan kesehatan mental merupakan tiga komponen yang saling berkaitan. Gizi yang baik mendukung perkembangan otak dan kemampuan berpikir, sementara literasi membantu seseorang memahami informasi, berpikir kritis, serta mengambil keputusan secara bijaksana.
Ia menilai tantangan era digital tidak hanya menghadirkan peluang, tetapi juga risiko seperti hoaks, cyberbullying, kecanduan gawai, hingga tekanan sosial yang dapat memengaruhi kondisi psikologis generasi muda. Karena itu, literasi digital perlu diperkuat agar masyarakat mampu memanfaatkan teknologi secara sehat, aman, dan bertanggung jawab.
Ahmad Khoiri juga menekankan pentingnya peran orang tua dalam membangun kebiasaan makan sehat, budaya membaca, serta pendampingan penggunaan internet di lingkungan keluarga. Sekolah pun diharapkan menjadi ruang penguatan karakter, literasi digital, dan kemampuan berpikir kritis peserta didik.
Ia menutup pemaparannya dengan mengajak seluruh elemen bangsa memperkuat kolaborasi dalam meningkatkan kualitas gizi, pendidikan, dan kesehatan mental sehingga Indonesia mampu melahirkan generasi yang sehat, cerdas, adaptif, dan berdaya saing menuju Indonesia Emas 2045.






