SEMARANG – Di tengah derasnya arus informasi yang setiap detik membanjiri media digital, kemampuan berpikir kritis menjadi bekal yang tak lagi bisa ditawar bagi mahasiswa. Berangkat dari semangat tersebut, Lembaga Pers Mahasiswa Islam (LAPMI) HMI Cabang Semarang menggelar Journalism Course LAPMI HMI Cabang Semarang 2026 di Balai Diklat Keagamaan Semarang, Kamis (2/7/2026).
Pelatihan yang diikuti puluhan kader HMI dari berbagai cabang ini diawali dengan Stadium General yang menghadirkan Siswanto, S.Pd., M.H., Ketua Umum Asosiasi DPRD Kabupaten Seluruh Indonesia (ADKASI), sebagai pembicara utama. Mengangkat kebebasan pers dan kritis mahasiswa di era digital, Siswanto mengajak peserta untuk melihat jurnalistik bukan sekadar keterampilan menulis berita, melainkan proses membangun cara berpikir yang kritis, objektif, dan bertanggung jawab.
Dalam pemaparannya, Siswanto menilai pers mahasiswa memiliki posisi yang sangat strategis di tengah perubahan lanskap media yang bergerak begitu cepat. Menurutnya, kemajuan teknologi digital telah membuka ruang yang luas bagi setiap orang untuk menyampaikan informasi. Namun, di saat yang sama, ruang tersebut juga dipenuhi oleh berbagai tantangan, mulai dari penyebaran hoaks, disinformasi, hingga opini yang kerap dibangun tanpa landasan fakta.
“Di era digital ini, semua orang bisa membuat konten, tetapi tidak semua orang mampu menghasilkan informasi yang benar. Di sinilah pers mahasiswa memiliki peran penting sebagai penjaga akal sehat publik dengan menghadirkan informasi yang faktual, berimbang, dan beretika,” ungkapnya.
Ia menegaskan bahwa mahasiswa tidak boleh hanya menjadi penonton dalam derasnya arus informasi. Sebagai kelompok intelektual, mahasiswa harus mampu hadir sebagai produsen pengetahuan yang menyampaikan informasi berdasarkan data, riset, dan verifikasi, bukan sekadar mengikuti tren atau mengejar viralitas.
Menurut Siswanto, pendidikan pers menjadi instrumen penting dalam membentuk karakter mahasiswa. Proses jurnalistik melatih seseorang untuk terbiasa melakukan observasi, menguji fakta, mendengar berbagai sudut pandang, hingga menyusun argumentasi secara logis. Kemampuan tersebut, kata dia, merupakan fondasi utama dalam membangun budaya demokrasi yang sehat.
“Pers mahasiswa bukan hanya belajar bagaimana menulis berita. Lebih dari itu, pers mengajarkan integritas, keberanian menyampaikan kebenaran, serta tanggung jawab moral terhadap setiap informasi yang dipublikasikan,” jelasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa tantangan terbesar generasi muda saat ini bukanlah minimnya akses terhadap informasi, melainkan kemampuan menyaring informasi yang benar di tengah banjir konten digital. Karena itu, kemampuan literasi media harus berjalan beriringan dengan penguasaan teknologi agar mahasiswa tidak mudah terjebak dalam manipulasi informasi maupun polarisasi di ruang digital.
Melalui kegiatan ini, LAPMI HMI Cabang Semarang berharap dapat melahirkan insan pers mahasiswa yang tidak hanya memiliki keterampilan jurnalistik yang baik, tetapi juga berintegritas, peka terhadap persoalan sosial, serta mampu menjaga independensi dan idealisme di tengah derasnya arus informasi digital.
Journalism Course 2026 pun menjadi penegasan bahwa pers mahasiswa tetap memiliki ruang dan relevansi sebagai laboratorium intelektual. Di tengah zaman ketika setiap orang dapat menjadi penyebar informasi, kehadiran jurnalis mahasiswa yang kritis, beretika, dan berpijak pada fakta menjadi kebutuhan yang semakin penting bagi kehidupan demokrasi Indonesia.






