JAKARTA – Pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dituntut beradaptasi dengan perkembangan teknologi digital agar mampu bertahan dan bersaing di tengah perubahan perilaku konsumen. Kehadiran usaha di platform digital tidak lagi sekadar pilihan, tetapi telah menjadi kebutuhan untuk memperluas jangkauan pasar dan meningkatkan peluang penjualan.
Direktur Eksekutif Cyrus Network, Hafizhul Mizan, menyampaikan hal tersebut dalam kegiatan Sosialisasi Merajut Nusantara bertema “UMKM Digital Perkuat Ekonomi Nasional”, Jumat, 30 Oktober 2026.
Mengangkat materi bertajuk “Jualan Jangan Jualan Kalau Tak Ada Online-nya”, Hafizhul menjelaskan bahwa pola perdagangan telah mengalami perubahan besar. Jika dahulu pelaku usaha mengandalkan lokasi strategis, spanduk, dan promosi dari mulut ke mulut, kini konsumen lebih banyak mencari produk melalui mesin pencari, media sosial, percakapan digital, serta ulasan pelanggan.
Menurutnya, pelaku UMKM harus mampu hadir di tempat konsumen mencari produk. Salah satu contohnya adalah merek dompet kanvas lokal asal Bandung, Wallts, yang berhasil memperluas pasar melalui identitas merek yang kuat, kualitas produk, cerita bisnis yang menarik, dan saluran penjualan digital yang lengkap.
Hafizhul menegaskan bahwa produk lokal tidak harus terbatas pada pasar lokal. Dengan strategi pemasaran yang tepat, produk UMKM berpeluang menjangkau konsumen di berbagai daerah hingga pasar internasional.
Ia menyebutkan bahwa UMKM memiliki kontribusi besar terhadap perekonomian Indonesia, yakni sekitar 61 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) dan menyerap sekitar 97 persen tenaga kerja. Dengan jumlah pelaku usaha yang mencapai sekitar 66 juta, kemajuan UMKM akan memberikan dampak luas terhadap kesejahteraan masyarakat.
Untuk memulai transformasi digital, Hafizhul memperkenalkan konsep 5T sebagai panduan sederhana bagi pelaku usaha. Pertama, Terlihat, yakni membuat usaha mudah ditemukan melalui WhatsApp dan Google Maps. Kedua, Terhubung, dengan memanfaatkan fitur percakapan dan katalog produk. Ketiga, Transaksi, melalui pembayaran digital seperti QRIS. Keempat, Tercatat, dengan melakukan pencatatan pemasukan dan pengeluaran. Kelima, Tumbuh, melalui pengelolaan ulasan pelanggan dan upaya mempertahankan konsumen.
Ia menekankan bahwa digitalisasi tidak harus dimulai dengan kemampuan teknologi yang rumit maupun anggaran besar. Pelaku UMKM cukup mengambil langkah sederhana dan mengembangkannya secara bertahap sesuai kebutuhan usaha.
Meski demikian, Hafizhul mengingatkan agar pelaku UMKM tidak hanya mengejar popularitas dan peningkatan penjualan melalui promosi digital. Kualitas produk dan pelayanan tetap harus menjadi prioritas utama.
Menanggapi pertanyaan peserta mengenai persaingan produk lokal di marketplace, ia menjelaskan bahwa reputasi usaha sangat ditentukan oleh kepuasan pelanggan. Ulasan positif menjadi bentuk promosi dari mulut ke mulut dalam ekosistem digital. Sebaliknya, pelayanan buruk dapat berdampak terhadap kepercayaan konsumen dan reputasi usaha.
Ia menyarankan pelaku UMKM untuk memulai dari target kecil, yakni memastikan setiap konsumen yang membeli mendapatkan pelayanan terbaik. Ketika kepuasan pelanggan terjaga, ulasan positif akan bertambah dan peluang pembelian berulang semakin besar.
Terkait fenomena promosi besar-besaran melalui live streaming dan konten viral, Hafizhul mengingatkan bahwa kapasitas produksi harus dipersiapkan sebelum meningkatkan pemasaran. Pelaku usaha yang hanya mampu memproduksi sepuluh barang per hari, misalnya, tidak seharusnya langsung menerima pesanan hingga ratusan produk apabila belum memiliki tenaga kerja dan standar produksi yang memadai.
Menurutnya, promosi tanpa kesiapan operasional justru berisiko menurunkan kualitas produk dan pelayanan. Karena itu, pengembangan usaha harus dilakukan secara bertahap, dimulai dari pasar sekitar sebelum memperluas jangkauan ke tingkat nasional.
Sementara bagi pelaku UMKM konvensional yang baru memulai digitalisasi, ia menyarankan agar perubahan dimulai dari sistem transaksi. Penggunaan QRIS dan pembayaran digital lainnya dapat membantu mempermudah pelayanan sekaligus membuat pencatatan keuangan lebih tertata. Setelah fondasi transaksi berjalan baik, pelaku usaha dapat mengembangkan pemasaran melalui Google Maps, media sosial, dan marketplace.
Dalam kesempatan tersebut, Hafizhul juga mengingatkan pentingnya literasi digital agar pelaku usaha terhindar dari penipuan, akun palsu, serta penyalahgunaan data. Pelaku UMKM diminta tidak membagikan kode OTP maupun PIN kepada siapa pun, menjaga keamanan rekening, memisahkan keuangan pribadi dan usaha, serta tidak bergantung sepenuhnya pada satu platform digital.
Sebagai langkah konkret, ia mengajak pelaku usaha memulai tantangan digitalisasi selama 30 hari. Tahap pertama dilakukan dengan membuat profil dan foto produk. Minggu kedua dilanjutkan dengan penggunaan WhatsApp Business dan QRIS. Minggu ketiga difokuskan pada promosi melalui konten dan ulasan pelanggan, sedangkan minggu keempat digunakan untuk mengevaluasi pesanan serta keuntungan usaha.
Pada bagian penutup, Hafizhul mengajak masyarakat untuk memperkuat ekonomi nasional melalui kebiasaan membeli produk dalam negeri. Menurutnya, UMKM dapat menjadi salah satu fondasi ekonomi masyarakat dalam menghadapi ketidakpastian global.
Ia mengingatkan bahwa setiap pembelian produk lokal turut mendukung keberlangsungan usaha, menjaga lapangan pekerjaan, dan membantu perekonomian keluarga. Karena itu, masyarakat didorong untuk membeli produk yang dihasilkan teman, saudara, tetangga, serta pelaku UMKM di lingkungan sekitar.
Hafizhul menegaskan bahwa memperkuat UMKM bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga membutuhkan partisipasi seluruh masyarakat. Dengan mendukung produk lokal, meningkatkan kualitas usaha, dan memanfaatkan teknologi digital, UMKM Indonesia diharapkan semakin berkembang serta mampu memperkuat kemandirian ekonomi nasional.






