BKKBN Jawa Barat Perkuat Pemantauan Tumbuh Kembang Anak dan Pemberdayaan Lansia

Jendelakaba.com, JAWA BARAT — Penguatan peran keluarga dan kader masyarakat menjadi bagian penting dalam meningkatkan kualitas hidup penduduk pada setiap tahap kehidupan. Melalui program Bina Keluarga Balita (BKB) dan Lansia Berdaya (SIDAYA), keluarga didorong untuk lebih aktif memantau tumbuh kembang anak sekaligus memberikan perhatian terhadap kesehatan, kemandirian, dan kesejahteraan lanjut usia.

Hal tersebut menjadi pokok pembahasan Dheri Ciptadi, perwakilan BKKBN Provinsi Jawa Barat, dalam kegiatan Sosialisasi Program Pembangunan Keluarga, Kependudukan, dan Keluarga Berencana Bersama Mitra Kerja di Kabupaten Bogor, Selasa (20/10/2026).

Dalam pemaparannya, Dheri menjelaskan bahwa Bina Keluarga Balita merupakan kegiatan yang membantu orang tua memahami pola pengasuhan dan mendukung perkembangan anak sesuai tahapan usianya. Pelaksanaannya melibatkan kader yang berperan memberikan penyuluhan, memantau perkembangan anak, melakukan kunjungan rumah, serta mendorong tindak lanjut apabila ditemukan permasalahan tumbuh kembang.

Kelompok BKB dibagi berdasarkan rentang usia anak, mulai dari 0–1 tahun, 1–2 tahun, 2–3 tahun, 3–4 tahun, 4–5 tahun, hingga 5–6 tahun. Pembagian tersebut memungkinkan materi penyuluhan disesuaikan dengan kebutuhan anak pada setiap tahap pertumbuhan.

Dheri menjelaskan bahwa terdapat tiga jenis kader dalam pelaksanaan BKB, yakni kader inti, kader piket, dan kader bantu. Kader inti bertugas menyampaikan materi penyuluhan kepada orang tua, kader piket membantu mengasuh anak selama kegiatan berlangsung, sedangkan kader bantu mendukung pelaksanaan kegiatan dan menggantikan kader lain apabila diperlukan.

Selain memberikan penyuluhan, kader BKB memiliki tanggung jawab untuk mengamati perkembangan anak, memberikan pelayanan dan melakukan kunjungan rumah, memotivasi orang tua agar mencari layanan lanjutan apabila ditemukan masalah, serta menyusun laporan kegiatan.

Untuk mendukung pelaksanaan tugas tersebut, diperlukan sarana penyuluhan dan administrasi yang memadai. Media seperti lembar balik, poster, alat permainan edukatif, dongeng, musik, dan lagu dapat digunakan untuk membantu orang tua memahami materi pengasuhan secara lebih menarik.

Salah satu instrumen penting yang dijelaskan dalam sosialisasi adalah Kartu Kembang Anak (KKA). Kartu ini digunakan untuk memantau perkembangan anak usia 0–72 bulan dan membantu orang tua memahami kemampuan yang diharapkan muncul pada setiap tahapan usia.

Menurut Dheri, pertumbuhan dan perkembangan merupakan dua hal yang saling berkaitan, tetapi memiliki indikator berbeda. Pertumbuhan berkaitan dengan perubahan fisik yang dapat diukur, seperti berat dan tinggi badan. Sementara itu, perkembangan mencakup peningkatan kemampuan motorik, komunikasi, kecerdasan, interaksi sosial, dan kemandirian anak.

Pemantauan pertumbuhan dapat dilakukan melalui Kartu Menuju Sehat (KMS) atau Buku Kesehatan Ibu dan Anak (Buku KIA), sedangkan perkembangan anak dapat diamati menggunakan KKA.

KKA mencakup tujuh aspek perkembangan, yaitu gerakan kasar, gerakan halus, komunikasi aktif, komunikasi pasif, kecerdasan, tingkah laku sosial, dan kemampuan menolong diri sendiri. Pemantauan dilakukan secara berkala dengan melibatkan orang tua dan kader agar kemajuan anak dapat diketahui dari waktu ke waktu.

Apabila terdapat kemampuan yang belum dikuasai anak, orang tua dapat diberikan arahan mengenai stimulasi yang sesuai untuk dilakukan di rumah. Jika keterlambatan berlangsung dalam periode tertentu, diperlukan pemantauan lebih lanjut dan rujukan sesuai kebutuhan anak.

Dheri menekankan bahwa pemantauan perkembangan bukan sekadar kegiatan pencatatan, melainkan sarana untuk membantu keluarga mengenali kebutuhan anak lebih awal. Dengan demikian, dukungan dan penanganan yang diperlukan dapat diberikan secara tepat.

Selain pembangunan keluarga yang berfokus pada anak, Dheri juga memaparkan program SIDAYA yang diarahkan untuk meningkatkan kualitas hidup penduduk lanjut usia.

Dalam materi tersebut, lanjut usia didefinisikan sebagai penduduk berusia 60 tahun ke atas. Program SIDAYA bertujuan mendukung lansia agar tetap sehat, aman, mandiri, dan mampu berpartisipasi dalam kehidupan keluarga maupun masyarakat.

Pelaksanaannya mencakup pemeriksaan kesehatan, pelatihan dan pendampingan Perawatan Jangka Panjang (PJP) berbasis keluarga, Sekolah Lansia Bina Keluarga Lansia (BKL), pengembangan kewirausahaan lansia, serta Kartu SIDAYA untuk mendukung akses terhadap pelayanan dan pemenuhan hak lansia.

Pemeriksaan kesehatan dapat mencakup pengukuran tekanan darah, gula darah, kolesterol, dan asam urat. Sementara itu, pengukuran tingkat kemandirian menggunakan instrumen ADL dan IADL dapat membantu menentukan kebutuhan pendampingan lebih lanjut.

Lansia yang masih mandiri dapat diarahkan mengikuti kegiatan Sekolah Lansia, sedangkan mereka yang membutuhkan bantuan tambahan dapat memperoleh pendampingan keluarga atau rujukan sesuai kondisi.

Dheri menjelaskan bahwa keberhasilan BKB dan SIDAYA membutuhkan kerja sama antara pemerintah, penyuluh keluarga berencana, kader, pemerintah desa, tenaga kesehatan, serta keluarga. Kolaborasi tersebut diperlukan agar layanan pengasuhan anak dan pemberdayaan lansia dapat menjangkau masyarakat sesuai kebutuhan.

Melalui penguatan BKB dan SIDAYA, pembangunan keluarga diharapkan mampu memberikan perhatian berkelanjutan kepada seluruh anggota keluarga, mulai dari anak usia dini hingga lanjut usia, sehingga kualitas hidup masyarakat dapat meningkat secara menyeluruh.***