BKR dan GATI Jadi Upaya Memperkuat Ketahanan Remaja di Era Digital

Jendelakaba.com, BOGOR, JAWA BARAT — Penguatan ketahanan remaja membutuhkan keterlibatan keluarga, lingkungan pendidikan, dan masyarakat dalam menghadapi tantangan perkembangan teknologi serta perubahan sosial. Komunikasi yang terbuka, pendampingan psikologis, dan keterlibatan aktif orang tua menjadi bagian penting dalam membantu remaja tumbuh menjadi generasi yang sehat, mandiri, dan bertanggung jawab.

Hal tersebut menjadi salah satu pokok pembahasan Rany dalam kegiatan Sosialisasi Program Pembangunan Keluarga, Kependudukan, dan Keluarga Berencana Bersama Mitra Kerja di Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat, Selasa (20/10/2026).

Dalam pemaparannya, Rany menjelaskan bahwa remaja merupakan kelompok strategis dalam pembangunan nasional. Mereka tidak hanya menjadi calon tenaga kerja dan pelaku pembangunan, tetapi juga calon pembentuk keluarga pada masa mendatang. Karena itu, kualitas remaja saat ini akan turut menentukan kualitas sumber daya manusia Indonesia di masa depan.

Berdasarkan data SUPAS 2025 yang disampaikan dalam materi, generasi Z, milenial, dan post-Gen Z mencapai 68,92 persen dari total populasi Indonesia yang berjumlah 284,67 juta jiwa. Besarnya proporsi tersebut menunjukkan pentingnya investasi pembangunan yang memperhatikan kesehatan, pendidikan, karakter, dan kesejahteraan generasi muda.

Namun, remaja saat ini menghadapi beragam tantangan. Tekanan akademik, tuntutan keluarga, kecemasan menghadapi masa depan, serta pengaruh lingkungan pergaulan dapat memengaruhi kondisi emosional dan kesehatan mental mereka.

Perkembangan teknologi juga membuat remaja semakin mudah mengakses berbagai jenis konten digital. Tanpa pendampingan dan literasi yang memadai, penggunaan internet berpotensi memperbesar paparan terhadap konten kekerasan, pornografi, perundungan siber, perjudian daring, dan perilaku berisiko lainnya.

Rany menjelaskan bahwa persoalan remaja tidak lagi hanya berlangsung di lingkungan fisik. Media sosial dapat menjadi tempat munculnya konflik, ajakan melakukan kekerasan, maupun penyebaran perilaku negatif. Dalam sejumlah kasus yang dibahasnya, aktivitas tawuran dan kekerasan antarremaja bahkan dapat terhubung dengan penggunaan platform digital.

Menurutnya, kondisi tersebut memerlukan pendekatan pendampingan yang adaptif. Orang tua tidak cukup hanya membatasi penggunaan gawai, tetapi juga perlu memahami dunia digital yang diakses anak dan membangun komunikasi agar remaja merasa aman untuk bercerita.

Penggunaan gawai secara berlebihan juga menjadi perhatian. Kebiasaan tersebut dapat mengganggu konsentrasi, kualitas tidur, aktivitas fisik, dan interaksi sosial apabila tidak dikelola dengan baik. Pola makan yang tidak seimbang, kurang olahraga, dan tekanan akademik turut menjadi faktor yang perlu diperhatikan dalam menjaga kesehatan remaja.

Selain itu, Rany menekankan pentingnya keterlibatan ayah dalam pengasuhan. Kehadiran ayah tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan ekonomi, tetapi juga mencakup dukungan emosional, pendampingan, serta pembentukan rasa percaya diri dan tanggung jawab anak.

Kurangnya keterlibatan orang tua dapat membuat remaja kehilangan ruang komunikasi yang aman ketika menghadapi persoalan. Karena itu, keluarga perlu membangun hubungan yang memungkinkan anak menyampaikan masalah tanpa takut langsung dihakimi.

Untuk mendukung penguatan ketahanan remaja, Rany memperkenalkan sejumlah program, di antaranya Bina Keluarga Remaja (BKR), Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIKR), serta Persiapan Kehidupan Berkeluarga bagi Remaja (PKBR).

Program BKR ditujukan kepada keluarga yang memiliki anak remaja berusia 10–24 tahun dan belum menikah. Program ini membantu orang tua meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dalam mendampingi perkembangan remaja.

Dalam pelaksanaannya, kader BKR berperan mendata keluarga yang memiliki remaja, menyelenggarakan penyuluhan, menyusun jadwal kegiatan, memfasilitasi pertemuan berkala, serta melakukan kunjungan rumah apabila diperlukan. Kader juga dapat membantu mengarahkan keluarga untuk memperoleh layanan lanjutan ketika menghadapi permasalahan yang membutuhkan penanganan khusus.

Selain BKR, Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI) menjadi salah satu upaya untuk meningkatkan keterlibatan ayah dalam pengasuhan dan pendampingan anak. Program ini mendorong ayah agar hadir dalam kehidupan anak, memberikan perhatian, dan terlibat dalam proses pembentukan karakter.

Berbagai kegiatan GATI antara lain konsultasi ayah, komunitas ayah teladan, Sekolah Bersama Ayah, Gerakan Ayah Mengambil Rapor Anak, serta Kelas Ayah Teladan. Layanan konsultasi juga dapat menjadi sarana bagi ayah dan remaja untuk berbagi persoalan dan mencari dukungan sesuai kebutuhan.

Rany menegaskan bahwa penguatan ketahanan remaja tidak dapat dibebankan hanya kepada anak. Orang tua, terutama ayah dan ibu, perlu bekerja sama dengan sekolah, komunitas, dan tenaga pendamping untuk menciptakan lingkungan yang mendukung perkembangan remaja.

Melalui penguatan BKR, PIKR, PKBR, dan GATI, keluarga diharapkan semakin mampu mendampingi remaja menghadapi tantangan zaman. Pendekatan yang mengedepankan komunikasi, perhatian, literasi digital, dan dukungan psikologis menjadi bagian penting dalam membangun generasi yang berkualitas menuju Indonesia Emas 2045.***