Jendelakaba.com – Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN terus memperkuat berbagai program prioritas untuk mewujudkan keluarga Indonesia yang sehat, tangguh, dan berkualitas.
Upaya tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam kegiatan Sosialisasi Program Pembangunan Keluarga, Kependudukan, dan Keluarga Berencana Bersama Mitra Kerja di Kota Bogor, Provinsi Jawa Barat, Rabu (21/10/2026).
Dalam kegiatan tersebut, narasumber Andina Dewi Lestari memaparkan berbagai program strategis Kemendukbangga/BKKBN yang dirancang untuk menjawab kebutuhan keluarga pada setiap tahapan kehidupan.
Ia menjelaskan, pembangunan keluarga membutuhkan pendekatan yang menyeluruh karena setiap keluarga memiliki karakteristik dan kebutuhan berbeda. Hal tersebut dapat dilihat melalui data Pendataan Keluarga 2025 (PK25), yang memuat informasi mengenai keluarga dengan lansia, pasangan usia subur, remaja, balita, hingga bayi di bawah dua tahun (baduta).
Data tersebut menjadi salah satu landasan dalam menentukan kebijakan dan intervensi yang tepat sasaran.
Salah satu program prioritas yang diperkenalkan adalah Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (Genting). Program ini bertujuan memberikan dukungan kepada keluarga yang rentan mengalami stunting melalui intervensi nutrisi maupun nonnutrisi.
Pelaksanaannya melibatkan berbagai unsur, seperti kader Posyandu, psikolog anak, dokter spesialis anak, influencer parenting, lembaga swadaya masyarakat, serta pemerintah daerah.
Selain itu, terdapat program Taman Asuh Sayang Anak (Tamasya) yang berfokus pada penyediaan layanan penitipan dan pengasuhan anak atau daycare yang unggul serta terstandarisasi.
Program tersebut diarahkan untuk menghadirkan layanan pengasuhan berkualitas dengan dukungan pengasuh tersertifikasi, psikolog anak, dan dokter spesialis anak. Perkembangan anak juga dipantau melalui laporan tumbuh kembang secara berkala setiap bulan.
Program lainnya adalah Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI), yang bertujuan mengoptimalkan keterlibatan ayah dalam pengasuhan dan kehidupan keluarga.
Menurut Andina, penguatan peran ayah menjadi penting dalam menjawab fenomena fatherless atau kurangnya keterlibatan figur ayah dalam kehidupan anak. Melalui GATI, masyarakat juga didorong memanfaatkan layanan konseling sejak masa pranikah, setelah menikah, hingga memasuki fase pengasuhan anak.
Kemendukbangga/BKKBN juga mengembangkan program SIDAYA atau Lansia Berdaya sebagai bentuk perhatian terhadap kelompok lanjut usia.
Program ini mencakup layanan homecare berbasis komunitas, khususnya bagi lansia yang tidak mendapatkan perawatan dari anak, dukungan pelayanan kesehatan gratis di puskesmas dan RSUD tanpa rujukan, serta pemberdayaan lansia sesuai kemampuan dan kapasitas masing-masing.
Dalam menghadapi perkembangan teknologi, Kemendukbangga/BKKBN turut mendorong pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) dan SuperApps tentang keluarga untuk mempermudah masyarakat memperoleh informasi, konsultasi, serta layanan terkait berbagai persoalan keluarga.
Terdapat pula layanan A-Z Pembangunan Keluarga yang menyediakan dukungan konsultasi mengenai persoalan keluarga dan anak, termasuk layanan konselor berbasis AI.
Sementara itu, dalam mendukung peningkatan kualitas generasi sejak dini, Kemendukbangga/BKKBN turut berperan dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) 3B yang menyasar ibu hamil, ibu menyusui, serta balita non-PAUD. Program ini diarahkan untuk memperkuat pemenuhan gizi pada periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).
Andina menegaskan bahwa pembangunan keluarga harus memperhatikan seluruh tahapan kehidupan, mulai dari persiapan keluarga, pengasuhan anak, penguatan peran orang tua, hingga pemberdayaan lansia.
Melalui pemanfaatan data kependudukan, kolaborasi lintas sektor, dan pengembangan layanan berbasis teknologi, berbagai program tersebut diharapkan mampu memperkuat ketahanan keluarga sekaligus meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia.***






