SUMATERA BARAT DAN PLURALISME PEMIKIRAN

Berbicara Sumatera Barat, tidak terlepas dari yang namanya Minangkabau. Bicara Minangkabau selalu identik dengan falsafahnya, yakni “Adat Basandi syarak, syarak basandi kitabullah”, artinya adat bersendi kepada agama, agama bersendi kepada kitab Allah (Al-qur’an). Agama yang dimaksud disini ialah agama Islam dan kitab Al-qur’an yang merupakan hukum tertinggi untuk mengatur tatanan kehidupan orang minangkabau. Oleh karena itu antara adat dan agama hendaklah saling bersesuaian dan sejalan. Dari falsafah tersebut, kerangka berfikir dan cara pandang (paradigma) orang minangkabau dalam menyikapi realitas kehidupan tentunya selalu berpegang teguh pada prinsip-prinsip Islam berupa pandangan dunia Islam (Islamic Word View).

Pemaknaan pandangan dunia Islam (Islamic Word View) oleh orang minangkabau tersebut dapat menggunakan analisis filosofis yakni hakikat islam yang meliputi hakikat alam, hakikat manusia, hakikat ilmu yang menjadi pandangan hidup (way of life) orang minangkabau. Hakikat alam maksudnya, orang minangkabau berlandaskan filosofi “Alam Takambang jadi Guru”, suatu konsep alam semesta tatanan kosmologis yang mengajarkan tentang segala sesuatu di alam semesta ini bisa dijadikan tempat belajar. Sejalan pula dengan pepatah “pakailah ilmu padi, yang semakin berisi maka semakin merunduk” Hal ini mengajarkan agar manusia tidak boleh sombong dengan ilmu yang dimiliki. Hakikat manusia maksudnya orang minangkabau berlandaskan filosofi ”harimau mati meninggalkan belang, gajah mati meninggalkan gading”, yang bermakna manusia mati meninggalkan nama, artinya setiap orang yang sudah meninggal pasti akan dikenang sesuai dengan perbuatannya di dunia, ini mengajarkan bahwa kita sebagai manusia haruslah bermanfaat kepada orang lain. Sedangkan hakikat ilmu, “Karatau Madang Dihulu, Babuah Babungo Balun, Marantau Bujang Dahulu, Dikampuang Paguno Balun” suatu pribahasa yang bermakna pergi merantau mencari ilmu pengetahuan untuk kemudian dibawa dan dikembangkan dikampung halaman demi memberi manfaat kepada orang banyak. Hal tersebut sering kali kita dengar (dinisbahkan) pada pepatah petitih dan petuah dari petinggi-petinggi adat di minangkabau seperti penghulu, alim ulama, cadiak pandai dan lain sebagainya.

Tokoh-tokoh perjuangan yang berasal dari Minangkabau tersebut memiliki satu cita-cita besar dan tujuan bersama yakni kejayaan bangsa Indonesia. Bagaimanapun, semangat bernegara yang berjiwa patriot, pemimpin, religius, cendikiawan menjadi profil dan karakteristik para tokoh perjuangan kala itu demi kejayaan bangsa Indonesia.

Disamping itu, terbentuknya kepribadian intelektual tokoh-tokoh minang terdahulu ada kaitannya dengan pendidikan surau. Di Minangkabau, surau tidak hanya dimaknai sebagai tempat peribadatan (ubudiyah) kepada Allah SWT, akan tetapi makna surau di Minangkabau mempunyai fungsi sebagai wadah aktualisasi diri remaja kala itu. Sebagai wadah aktualisasi diri remaja, surau menjadi tempat belajar penanaman nilai-nilai keagamaan, nilai-nilai kebudayaan, nilai-nilai keilmuan dan nilai-nilai sosial.

Seseorang yang sudah memasuki usia remaja, tidak lagi beraktifitas dan berdiam diri dirumah, mereka akan lebih banyak beraktifitas di surau. Mereka yang rajin belajar dan menekuni agama, dewasanya akan menjadi ulama. Kemudian yang rajin belajar dan menekuni budaya, dewasanya akan menjadi budayawan dan seniman. Sedangkan yang rajin belajar menekuni keilmuan, nantinya akan menjadi tokoh-tokoh pemikir intelektual. Ketika mereka sampai pada tahap dewasa hasil dari mengikuti pendidikan surau, mereka akan pergi merantau untuk mengaplikasikan ilmu yang mereka dapatkan dari pendidikan surau di kampung. Baik merantau untuk melanjutkan pendidikan atau merantau untuk mencari pekerjaan yang bisa merubah nasibnya. Hal ini secara tidak langsung mengambil andil dalam pembentukan karakter kuat dan tangguh pada tokoh minangkabau dahulu.

Saat ini, keberagaman pemikiran sudah mulai hilang di Sumatera Barat. Walaupun masih ada, akan tetapi keberagaman ini tidak terlalu tampak wujudnya, sebab keberagaman yang ada sekarang akan dianggap terlalu ekstrim. Hal ini juga mengakibatkan minangkabau dianggap tidak mendukung pluralisme dalam pemikiran.

Pada konteks sekarang, kita tidak membutuhkan konsep baru terhadap bangsa Indonesia, sebab konsep tersebut sudah final oleh tokoh-tokoh perjuangan terdahulu apalagi dengan status kita yang sudah merdeka. Akan tetapi yang kita butuhkan adalah spirit baru untuk menjaga dan merawat bangsa ini dari ketidakadilan, sehingga NKRI akan selalu tangguh dan tumbuh. Barangkali ini yang perlu kita pikirkan bersama, terlebih untuk generasi penerus.

Sebagai generasi penerus (generasi milenial), hendaknya kita tetap menjadikan historis perjuangan para tokoh-tokoh terdahulu sebagai inspirasi dan motivasi demi menjaga tatanan nilai dalam pergerakan perjuangan. Jika dahulu yang ditanamkan adalah spirit kemerdekaan bagaimana bisa merdeka, dan sekarang realitasnya kita sudah merdeka, lantas sekarang spirit apa yang harus kita tanamkan selanjutnya? Ini menjadi catatan untuk kita bersama selaku generasi penerus perjuangan. Harapannya, Sumatera Barat pada umumnya dan Minangkabau pada khususnya, mampu mengakomodir perbedaan-perbedaan pemikiran yang ada demi menjaga tatanan nilai dan spirit perjuangan. Sehingga cita-cita bangsa dan negara yang terkandung di dalam Undang-undang 1945 alinia ke-4 yakni kesejahteraan dan keadilan social bagi seluruh rakyat Indonesia dapat terwujud dengan sebagaimana mestinya.

Penulis : Abdiul Gani, S.H

Respon (1)

  1. Excellent read, I just passed this onto a colleague who was doing a little research on that. And he actually bought me lunch since I found it for him smile So let me rephrase that: Thanks for lunch!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *