AI Bukan Sekadar Soal Bisa, tapi Juga Etika dan Tanggung Jawab

JAKARTA — Kemajuan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) membawa berbagai peluang dalam produksi konten digital. Namun, kemudahan membuat foto, video, maupun suara menggunakan AI juga menghadirkan tantangan etika, terutama ketika teknologi tersebut digunakan untuk menipu, memanipulasi informasi, atau merugikan orang lain.

 

Hal itu menjadi salah satu pembahasan dalam Sosialisasi Merajut Nusantara bertajuk “Etika Bermedia Digital”, Selasa, 15 September 2026.

 

Asisten Profesor Fakultas Komunikasi dan Desain Kreatif Universitas Budi Luhur Jakarta, Dr. Medya Apriliansyah, S.E., M.Si., mengatakan persoalan utama dalam penggunaan AI bukan semata-mata terletak pada teknologinya, melainkan tujuan, cara, serta dampak penggunaannya.

 

Menurut Medya, AI merupakan alat yang dapat digunakan untuk kepentingan positif, termasuk pendidikan, kreativitas, dan produksi informasi. Namun, teknologi yang sama juga dapat digunakan untuk membuat hoaks, fitnah, manipulasi, atau konten yang merugikan orang lain.

 

“AI pada dasarnya hanya sebuah alat,” ujarnya.

 

Karena itu, pengguna AI perlu mempertanyakan apakah konten yang hendak dibuat diperbolehkan, untuk apa dibuat, apakah membutuhkan izin pihak yang bersangkutan, dan apa dampaknya terhadap orang lain.

 

Medya mencontohkan penggunaan AI untuk membuat foto, video, atau suara yang menyerupai seseorang. Pengguna perlu mempertimbangkan persoalan izin, kemungkinan masyarakat salah memahami konten tersebut sebagai kejadian nyata, serta potensi kerusakan terhadap nama baik dan privasi seseorang.

 

Ia juga menekankan pentingnya transparansi. Konten yang dibuat atau dimodifikasi menggunakan AI dan berpotensi dianggap sebagai kejadian nyata sebaiknya diberikan keterangan yang menjelaskan bahwa konten tersebut merupakan hasil penggunaan atau kolaborasi dengan AI.

 

Menurut Medya, tanggung jawab utama tidak dapat hanya dibebankan kepada perusahaan pengembang teknologi. Pengguna yang membuat dan menyebarluaskan konten juga memiliki tanggung jawab atas tindakan yang dilakukan.

 

Jika seseorang dengan sengaja membuat konten manipulatif menggunakan AI untuk memfitnah orang lain dan kemudian menyebarkannya agar masyarakat mempercayainya sebagai kenyataan, maka tindakan tersebut memiliki konsekuensi yang harus dipertanggungjawabkan oleh pembuat maupun penyebarnya.

 

Di sisi lain, platform digital juga memiliki tanggung jawab untuk menyediakan mekanisme pelaporan, moderasi, dan perlindungan pengguna. Pengembang teknologi pun perlu terus membangun sistem yang lebih aman dan mengurangi peluang penyalahgunaan.

 

Pembahasan mengenai AI tersebut sejalan dengan pesan Anggota Komisi I DPR RI Dr. Desy Ratnasari, M.Si., M.Psi., Psikolog, bahwa kemajuan teknologi harus tetap berada dalam koridor etika dan aturan yang berlaku.

 

Desy menekankan pentingnya memahami regulasi sebelum menggunakan maupun menyebarluaskan konten digital, termasuk aturan mengenai informasi elektronik dan perlindungan data pribadi.

 

Sementara itu, ICT Regulatory dan USO Expert IICF Ir. Woro Indah Widiastuti, MT, mengingatkan bahwa perkembangan teknologi digital juga diikuti berbagai tantangan seperti disrupsi informasi dan AI, cyber bullying, ujaran kebencian, penipuan digital, judi online, hingga kecanduan media sosial.

 

Menurut Woro, masyarakat membutuhkan empat pilar literasi digital sebagai kompas, yakni kecakapan digital, keamanan digital, budaya digital, dan etika digital.

 

Kecakapan menggunakan teknologi, kata dia, harus berjalan bersama kemampuan menjaga keamanan data, menghargai orang lain, serta bertanggung jawab terhadap setiap tindakan di ruang digital.

 

Ketiga narasumber juga menekankan pentingnya membangun kebiasaan think before you post. Setiap pengguna perlu berhenti sejenak sebelum mengunggah atau membagikan konten, memeriksa kebenaran informasi, mempertimbangkan manfaat dan dampaknya, serta memastikan cara penyampaiannya tidak merugikan orang lain.

 

Medya mengatakan teknologi tidak seharusnya hanya digunakan untuk mengejar viralitas. Ruang digital dapat menjadi sarana menciptakan nilai dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

 

“Teknologi boleh semakin canggih, tetapi kemanusiaan, etika, dan tanggung jawab tidak boleh tertinggal,” katanya.

 

Pesan tersebut menjadi penutup rangkaian diskusi yang menempatkan manusia sebagai pihak utama dalam menentukan bagaimana teknologi digunakan. Kemajuan teknologi dapat terus berkembang, tetapi keputusan untuk menggunakan teknologi secara cerdas, kritis, aman, santun, dan bertanggung jawab tetap berada pada penggunanya.