Jendelakaba.com — Pembangunan keluarga yang berkualitas membutuhkan perhatian berkelanjutan pada setiap tahap kehidupan, mulai dari ibu hamil, balita, remaja, usia produktif, hingga lanjut usia. Pendekatan berbasis siklus hidup menjadi salah satu upaya untuk memastikan setiap kelompok memperoleh dukungan sesuai kebutuhan.
Hal tersebut menjadi salah satu materi utama dalam kegiatan Sosialisasi Program Pembangunan Keluarga, Kependudukan, dan Keluarga Berencana Bersama Mitra Kerja di Kabupaten Bekasi, Provinsi Jawa Barat, Senin (12/10/2026).
Anggota Komisi IX DPR RI, H. Obon Tabroni, S.E., menjelaskan bahwa pembangunan generasi berkualitas harus dilakukan secara menyeluruh dan berkesinambungan. Setiap kelompok usia memiliki kebutuhan dan tantangan berbeda sehingga memerlukan dukungan yang sesuai.
Menurutnya, pembangunan keluarga tidak hanya berfokus pada pencegahan stunting, tetapi juga mencakup pemenuhan gizi, pengasuhan anak, kesehatan mental remaja, keterlibatan ayah, hingga pemberdayaan lansia.
Salah satu program yang menjadi perhatian adalah Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (GENTING). Program tersebut mendorong masyarakat dan berbagai pemangku kepentingan untuk membantu keluarga berisiko stunting, khususnya keluarga yang memiliki ibu hamil, ibu menyusui, dan balita.
Dukungan tersebut diharapkan dapat memperkuat pemenuhan kebutuhan dasar keluarga sekaligus membantu mencegah gangguan pertumbuhan anak sejak awal kehidupan.
Pengasuhan Anak dan Keterlibatan Ayah
Selain intervensi gizi, kualitas pengasuhan menjadi perhatian penting dalam pembangunan keluarga. Melalui program Taman Asuh Sayang Anak (TAMASYA), Kemendukbangga/BKKBN mendorong penguatan layanan pengasuhan anak yang berkualitas, termasuk bagi keluarga dengan orang tua yang bekerja.
Ketersediaan layanan pengasuhan yang aman dan sesuai kebutuhan anak diharapkan membantu orang tua menjalankan tanggung jawab pekerjaan tanpa mengabaikan tumbuh kembang anak.
Sementara itu, keterlibatan ayah diperkuat melalui Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI). Program ini mengajak para ayah untuk berperan aktif dalam pengasuhan, bukan hanya melalui pemenuhan kebutuhan ekonomi, tetapi juga melalui perhatian, komunikasi, dan pendampingan emosional.
Kehadiran ayah dinilai penting dalam membantu membangun rasa aman, kepercayaan diri, kedisiplinan, serta kemampuan anak menghadapi berbagai tantangan kehidupan.
Perhatian terhadap kesehatan mental remaja juga perlu ditingkatkan. Orang tua diharapkan mampu membangun komunikasi terbuka, mendengarkan persoalan anak tanpa menghakimi, dan menciptakan lingkungan keluarga yang nyaman.
Dengan demikian, remaja memiliki ruang untuk menyampaikan perasaan dan persoalan yang dihadapi sehingga dukungan dapat diberikan lebih awal.
Pemenuhan Gizi hingga Pemberdayaan Lansia
Dalam pemaparannya, Obon juga menjelaskan pentingnya dukungan pemenuhan gizi bagi kelompok 3B, yakni ibu hamil, ibu menyusui, dan balita yang belum mengikuti pendidikan anak usia dini, melalui program Makan Bergizi Gratis.
Dalam pelaksanaannya, BKKBN memiliki peran dalam penyediaan data keluarga melalui Sistem Informasi Keluarga (SIGA) serta penggerakan pendamping keluarga untuk membantu menjangkau kelompok sasaran.
Di sisi lain, kelompok lanjut usia juga membutuhkan perhatian agar tetap sehat, mandiri, dan produktif.
Melalui program SIDAYA, berbagai upaya didorong untuk mendukung kesejahteraan lansia, antara lain pemeriksaan kesehatan, pendampingan perawatan jangka panjang berbasis keluarga, Sekolah Lansia, pelatihan kewirausahaan, serta dukungan akses terhadap pelayanan dan pemenuhan hak-hak lansia.
Obon menegaskan bahwa keberhasilan pembangunan keluarga bergantung pada keterlibatan banyak pihak. Program pemerintah perlu didukung oleh pemerintah daerah, dunia usaha, mitra kerja, keluarga, dan masyarakat.
Pendekatan berbasis siklus hidup diharapkan dapat memastikan setiap kelompok memperoleh perhatian sesuai kebutuhannya. Dengan demikian, pembangunan keluarga tidak hanya menghasilkan generasi muda yang berkualitas, tetapi juga memperkuat kesejahteraan keluarga secara menyeluruh demi mewujudkan Indonesia Emas 2045.***






