Kemendukbangga/BKKBN Perkuat Program Keluarga dari Pengasuhan Anak hingga Pemberdayaan Lansia

Jendelakaba.com, KABUPATEN BEKASI — Pembangunan keluarga membutuhkan pendekatan menyeluruh yang memperhatikan kebutuhan setiap anggota keluarga, mulai dari anak usia dini, orang tua, hingga kelompok lanjut usia. Melalui Program Pembangunan Keluarga, Kependudukan, dan Keluarga Berencana atau Bangga Kencana, pemerintah mendorong terwujudnya keluarga yang mampu mendukung tumbuh kembang generasi muda sekaligus menjaga kesejahteraan seluruh anggotanya.

Hal tersebut menjadi salah satu pokok pembahasan dalam kegiatan Sosialisasi Program Pembangunan Keluarga, Kependudukan, dan Keluarga Berencana Bersama Mitra Kerja di Kabupaten Bekasi, Provinsi Jawa Barat, Senin (12/10/2026).

Dalam materi sosialisasi, dijelaskan bahwa Program Bangga Kencana tidak hanya berfokus pada perencanaan keluarga, tetapi juga mencakup pembangunan keluarga dan pemenuhan kebutuhan masyarakat pada berbagai tahap kehidupan. Pendekatan ini diarahkan untuk mendukung terciptanya generasi yang sehat, berkualitas, dan siap menghadapi tantangan menuju Indonesia Emas 2045.

Materi tersebut juga memaparkan transformasi kelembagaan BKKBN dari Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional pada periode 1970–2009, menjadi Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional pada periode 2009–2024, hingga transformasi pada 2025 menjadi Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN atau Kemendukbangga/BKKBN.

Perubahan kelembagaan tersebut menjadi bagian dari penyesuaian pendekatan pembangunan agar semakin memperhatikan dinamika kependudukan dan kebutuhan keluarga yang terus berkembang.

Dalam pelaksanaannya, Kemendukbangga/BKKBN mengembangkan sejumlah program prioritas atau Quick Win yang mencakup pengasuhan anak, keterlibatan ayah, pencegahan stunting, serta pemberdayaan lanjut usia.

Salah satunya adalah TAMASYA atau Taman Asuh Sayang Anak. Program ini mendorong tersedianya lingkungan pengasuhan yang aman, berkualitas, dan penuh perhatian bagi anak. Pengasuhan yang baik sejak usia dini dinilai penting karena menjadi fondasi bagi perkembangan fisik, emosional, sosial, dan kemampuan belajar anak.

Melalui TAMASYA, kebutuhan pengasuhan anak diharapkan dapat memperoleh perhatian lebih luas, termasuk bagi keluarga yang orang tuanya bekerja. Keterlibatan lembaga penyedia layanan pengasuhan dan tenaga profesional menjadi salah satu aspek yang dapat mendukung kualitas layanan sesuai kebutuhan anak.

Program berikutnya adalah GATI atau Gerakan Ayah Teladan Indonesia. Program ini mendorong peningkatan keterlibatan ayah dalam kehidupan keluarga, khususnya dalam proses pengasuhan dan pendampingan anak.

Peran ayah tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan ekonomi, tetapi juga kehadiran emosional, komunikasi, dan partisipasi dalam membangun lingkungan keluarga yang mendukung tumbuh kembang anak. Melalui GATI, tanggung jawab pengasuhan diharapkan dapat dijalankan secara bersama oleh ayah dan ibu.

Selain memperhatikan anak dan keluarga usia produktif, pembangunan keluarga juga mencakup kelompok lanjut usia melalui program SIDAYA atau Lansia Berdaya.

Program ini diarahkan untuk mendorong lansia agar tetap sehat, merasa aman, dan memiliki kesempatan berpartisipasi dalam kehidupan keluarga maupun masyarakat. Pendekatan tersebut menempatkan lansia sebagai bagian penting dalam pembangunan keluarga yang tetap memiliki potensi, pengalaman, dan peran sosial.

Dalam materi sosialisasi dijelaskan bahwa lansia tangguh perlu didukung melalui tujuh dimensi, yakni spiritual, intelektual, emosional, vokasional, fisik, sosial kemasyarakatan, dan lingkungan.

Ketujuh dimensi tersebut menunjukkan bahwa kesejahteraan lansia tidak hanya ditentukan oleh kondisi kesehatan fisik. Dukungan emosional, kesempatan untuk terus belajar, keterlibatan sosial, aktivitas yang sesuai kemampuan, serta lingkungan yang aman juga menjadi bagian penting dari kualitas hidup mereka.

Pelaksanaan SIDAYA berfokus pada tiga hal utama, yaitu menjadikan lansia sehat, aman, dan tetap berpartisipasi. Dengan pendekatan tersebut, lansia diharapkan dapat menjalani kehidupan yang lebih bermakna dan tetap terhubung dengan lingkungan sosialnya.

Rangkaian program TAMASYA, GATI, dan SIDAYA memperlihatkan bahwa pembangunan keluarga memerlukan kesinambungan perhatian antargenerasi. Anak membutuhkan pengasuhan yang berkualitas, orang tua perlu terlibat aktif dalam membangun keluarga, sedangkan lansia memerlukan dukungan agar tetap sehat dan berdaya.

Melalui sosialisasi bersama mitra kerja, program Bangga Kencana diharapkan semakin dipahami oleh masyarakat dan dapat diterapkan sesuai kebutuhan di lingkungan masing-masing. Kolaborasi pemerintah, keluarga, lembaga masyarakat, dan sektor swasta menjadi salah satu faktor penting dalam memperluas manfaat program pembangunan keluarga.***