Jendelakaba.com — Arus informasi yang semakin cepat di era digital menjadi tantangan tersendiri bagi kualitas demokrasi di Indonesia. Karena itu, peningkatan literasi digital menjadi salah satu fokus dalam kegiatan Sosialisasi dan Pendidikan Pemilih Berkelanjutan kepada Kelompok Pemilih Rentan, Marjinal, dan Pemula yang digelar KPU pada Kamis (6/8/2026).
Dalam pemaparannya, Tenaga Ahli Presidential Communication Office RI 2025, Hani Fauziah Asrida, menjelaskan bahwa tingginya penggunaan internet harus diimbangi dengan kemampuan masyarakat dalam memilah informasi yang benar.
Ia mengingatkan bahwa penyebaran hoaks, disinformasi, dan malinformasi dapat memengaruhi kualitas demokrasi apabila masyarakat tidak memiliki kebiasaan melakukan verifikasi terhadap setiap informasi yang diterima.
Peserta diberikan sejumlah langkah sederhana untuk menangkal hoaks, mulai dari memeriksa identitas sumber informasi, mengecek tanggal publikasi, hingga membandingkan informasi dengan media maupun lembaga resmi sebelum membagikannya.
Selain membahas literasi digital, narasumber juga mengingatkan pentingnya menolak praktik politik uang. Menurutnya, pemimpin yang lahir melalui politik uang berpotensi mengabaikan kepentingan rakyat karena lebih fokus mengembalikan biaya politik.
Kegiatan ini juga menghadirkan akademisi dan aktivis perempuan yang mengajak masyarakat, khususnya perempuan dan pemilih pemula, untuk aktif berpartisipasi dalam kehidupan demokrasi, tidak hanya saat pemilu berlangsung, tetapi juga melalui pengawasan terhadap jalannya pemerintahan.
Melalui pendidikan pemilih yang dilaksanakan secara berkelanjutan, KPU berharap masyarakat semakin cerdas dalam menggunakan hak pilih, mampu menangkal hoaks, menolak politik uang, serta berkontribusi mewujudkan demokrasi Indonesia yang semakin berkualitas.***






