Jendelakaba.com//Bagi masyarakat Nagari Lubuk Besar dan Alahan Nan Tigo, Kecamatan Asam Jujuhan, nama Bukit Hujan bukan sekadar penanda sebuah ruas jalan. Nama itu menyimpan cerita panjang tentang perjuangan, keterisolasian, sekaligus harapan yang tak kunjung terwujud selama puluhan tahun.
Setiap kali hujan turun, jalan tanah dengan dua tanjakan terjal itu berubah menjadi lintasan yang menakutkan. Dengan kemiringannya yang ekstrem, kendaraan sering kali tidak mampu menanjak. Ban berputar tanpa daya, sementara pengendara harus berjibaku dengan lumpur yang licin.
Tak sedikit warga yang memilih memutar melalui jalan alternatif milik perusahaan. Jaraknya jauh lebih panjang, dengan waktu tempuh mencapai satu setengah jam. Padahal, bagi masyarakat pedesaan, setiap menit perjalanan sangat berarti. Namun kondisi itu kini mulai terang.
Melalui kolaborasi perjuangan Bupati Annisa Suci Ramadhani, Pemerintah Kabupaten Dharmasraya dan PT TKA melalui program Corporate Social Responsibility (CSR), Jalan Bukit Hujan akhirnya mulai diperbaiki.
Penanganan dilakukan sepanjang 1.769 meter pada enam titik prioritas. Alat-alat berat bekerja membelah bukit, memperlebar badan jalan, sekaligus mengurangi kemiringan tanjakan yang selama ini menjadi penghalang utama. Setelah pembentukan badan jalan selesai, pekerjaan akan dilanjutkan dengan pengerasan serta pembangunan rigid beton pada tiga titik tanjakan paling ekstrem.
Di balik dimulainya pembangunan tersebut, terdapat komunikasi panjang yang dibangun Bupati Dharmasraya, Annisa Suci Ramadhani, dengan manajemen PT TKA untuk memperjuangkan aspirasi masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan perkebunan.
Sekretaris Daerah Kabupaten Dharmasraya, Medison, mengatakan sejak awal memimpin, Bupati Annisa menyadari bahwa kemampuan fiskal daerah sangat terbatas. Di tengah penyesuaian Transfer ke Daerah (TKD) dan belum optimalnya sumber-sumber pendapatan daerah, kebutuhan pembangunan masyarakat justru terus meningkat. Kondisi tersebut menjadi tantangan yang harus dijawab dengan berbagai terobosan agar pembangunan tetap berjalan.
Karena itu, lanjut Medison, Bupati tidak menjadikan keterbatasan anggaran sebagai alasan untuk berhenti membangun. Berbagai potensi daerah dioptimalkan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan, termasuk membangun sinergi dengan perusahaan-perusahaan yang berinvestasi di Kabupaten Dharmasraya melalui program Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (CSR). Kolaborasi dengan PT TKA dalam pembangunan Jalan Bukit Hujan menjadi salah satu bukti bahwa kerja sama pemerintah dan dunia usaha mampu menghadirkan manfaat langsung bagi masyarakat.
General Affair PT TKA, Syaiful R., mengakui pembangunan jalan tersebut lahir dari kerja sama yang baik antara perusahaan dan pemerintah daerah.
“Ibu Bupati Annisa mengundang kami. Beliau menjalin komunikasi yang sangat intens dengan kami untuk memperjuangkan aspirasi masyarakat di nagari-nagari sekitar kebun perusahaan. Kami juga melihat pembangunan menjadi bentuk kontribusi kami kepada nagari-nagari di sekitar”
“Selain itu jalan ini bukan hanya bermanfaat bagi masyarakat, tetapi juga memberikan manfaat bagi perusahaan. Ke depan bukan tidak mungkin truk pengangkut CPO juga dapat memanfaatkan akses ini.” Jum’at (26/06/2026) lalu.
Menurutnya, manfaat pembangunan bahkan sudah terlihat meski pekerjaan belum selesai sepenuhnya. “Baru beberapa hari diperbaiki, masyarakat sudah banyak yang menggunakan jalan ini.” ujarnya.
Bagi Wali Nagari Lubuk Besar, Burhanuddin, suara alat berat yang kini bekerja di Bukit Hujan adalah jawaban atas penantian yang telah berlangsung sekitar dua puluh tahun.
Sejak perusahaan mulai beroperasi di wilayah itu, masyarakat terus berharap jalan tersebut dapat diperbaiki dan dibangun lebih permanen. Berbagai upaya telah dilakukan, namun harapan itu baru terwujud pada masa kepemimpinan Bupati Annisa Suci Ramadhani.
“Alhamdulillah, baru pada masa kepemimpinan Bupati Annisa Suci Ramadhani pembangunan ini akhirnya bisa diwujudkan. Kami mengucapkan terima kasih kepada Ibu Bupati dan PT TKA yang telah menjawab harapan masyarakat.” ujarnya.
Burhanuddin mengatakan manfaat terbesar bukan hanya soal jalan yang lebih nyaman dilalui. Jalan yang baik berarti akses menuju kehidupan yang lebih baik.
Perjalanan menuju Puskesmas Sungai Limau yang sebelumnya harus ditempuh sekitar satu setengah jam melalui jalan alternatif kini diperkirakan hanya memerlukan waktu sekitar 30 menit. Penghematan waktu hampir satu jam itu menjadi kabar yang paling melegakan, terutama ketika masyarakat menghadapi situasi darurat.
Saat ada warga yang harus segera mendapatkan penanganan medis di Unit Gawat Darurat (UGD), ibu hamil yang hendak melahirkan, korban kecelakaan, atau pasien dalam kondisi kritis, setiap menit perjalanan dapat menentukan keselamatan jiwa.
Jalan Bukit Hujan yang kini mulai diperbaiki menghadirkan harapan baru bahwa layanan kesehatan dapat dijangkau lebih cepat saat waktu menjadi faktor yang sangat menentukan.
Dengan adanya jalan bukit hujan diharapkan semakin banyak anak-anak Lubuk Besar yang akan melanjutkan sekolah SMAN 1 Asam Jujuhan yang bekedudukan di Alahan Nan Tigo dan SMPN 1 Asam Jujuhan yang berkedukan di Sungai Limau, yang akan membuat dua sekolah itu akan semakin berkembang.
Tak hanya itu, distribusi hasil pertanian juga akan semakin lancar, biaya transportasi dapat ditekan, aktivitas ekonomi lebih hidup, dan aparatur pemerintah akan lebih mudah menjangkau masyarakat.
Burhanuddin masih mengingat sebuah peristiwa yang menggambarkan beratnya medan menuju Lubuk Besar. Saat Tim Safari Ramadan Pemerintah Kabupaten Dharmasraya datang beberapa tahun lalu, rombongan tidak bisa langsung kembali setelah acara selesai. Hujan membuat Jalan Bukit Hujan berubah menjadi kubangan lumpur yang mustahil dilalui kendaraan.
Rombongan akhirnya terpaksa bermalam dan baru bisa pulang keesokan harinya setelah jalan mulai mengering.
Harapan yang sama juga disampaikan Wali Nagari Alahan Nan Tigo, Ismet Suhendro. Menurutnya, pembangunan jalan ini bukan hanya mempermudah mobilitas warga, tetapi juga mempererat hubungan sosial masyarakat dua nagari yang selama ini memiliki ikatan kekerabatan yang kuat dan saling mengunjungi.
Banyak warga Alahan Nan Tigo yang memiliki kebun di sekitar kawasan tersebut. Dengan akses yang semakin baik, aktivitas bertani dan mengangkut hasil kebun akan menjadi lebih mudah dan efisien.
Pembangunan Jalan Bukit Hujan mungkin hanya sepanjang 1,7 kilometer. Namun bagi masyarakat Lubuk Besar dan Alahan Nan Tigo, jalan ini bukan sekadar hamparan tanah yang diperkeras atau tanjakan yang dipangkas.
Jalan ini adalah penghubung menuju pelayanan kesehatan yang lebih cepat, pendidikan yang lebih mudah dijangkau, roda ekonomi yang bergerak lebih lancar, serta bukti bahwa harapan yang diperjuangkan selama dua puluh tahun akhirnya benar-benar menemukan jalannya.***






