BKKBN Dorong Lima Quick Wins untuk Perkuat Pembangunan Keluarga

Jendelakaba.com – Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN terus memperkuat pembangunan keluarga melalui sejumlah program prioritas yang menyasar berbagai persoalan di setiap tahapan kehidupan.

Hal tersebut disampaikan Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Jawa Barat, Dr. Dadi Ahmad Roswandi, M.Si., dalam kegiatan Sosialisasi Program Pembangunan Keluarga, Kependudukan, dan Keluarga Berencana Bersama Mitra Kerja di Kabupaten Bekasi, Provinsi Jawa Barat, Sabtu (3/10/2026).

Dalam pemaparannya, Dadi menjelaskan bahwa transformasi BKKBN menjadi Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN menjadi bagian dari upaya memperkuat pelaksanaan program kependudukan dan pembangunan keluarga di Indonesia.

Ia menyebut pembangunan keluarga membutuhkan pendekatan yang komprehensif karena persoalan keluarga tidak berhenti pada satu kelompok usia.

Karena itu, pemerintah menyiapkan lima program Quick Wins yang mencakup berbagai kebutuhan masyarakat, yaitu Taman Asuh Sayang Anak (TAMASYA), Gerakan Orangtua Asuh Cegah Stunting (GENTING), Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI), AI-SuperApps Tentang Keluarga, dan Lansia Berdaya.

TAMASYA diarahkan menjadi layanan pengasuhan anak yang berkualitas bagi keluarga, khususnya ketika kedua orang tua harus bekerja. Program ini mendorong penyediaan daycare dengan standar pengasuhan yang baik, termasuk dukungan pengasuh tersertifikasi, psikolog anak, dan tenaga kesehatan.

Program kedua adalah GENTING yang mengajak masyarakat terlibat sebagai Orang Tua Asuh bagi keluarga yang berisiko stunting.

Bentuk dukungannya mencakup pemenuhan kebutuhan rumah layak huni, akses air bersih, jamban sehat, nutrisi, edukasi, hingga pemberdayaan ekonomi keluarga.

Selanjutnya, GATI hadir untuk memperkuat keterlibatan ayah dalam pengasuhan anak. Program tersebut diarahkan untuk menjawab persoalan fatherless sekaligus meningkatkan kapasitas ayah dan calon ayah dalam mendampingi anak sejak masa persiapan pernikahan hingga menjalani kehidupan sebagai orang tua.

“Peran ayah dalam keluarga menjadi bagian penting dalam membentuk karakter, kemandirian, dan kesiapan anak menghadapi masa depan,” menjadi salah satu penekanan dalam pemaparan program tersebut.

Program berikutnya adalah AI-SuperApps Tentang Keluarga yang dirancang sebagai platform layanan dan konsultasi berbagai persoalan keluarga. Layanan tersebut mencakup konsultasi pengasuhan anak, laktasi, kesehatan anak, hingga berbagai kebutuhan informasi mengenai kesejahteraan keluarga.

Sementara program Lansia Berdaya ditujukan untuk memastikan kelompok lanjut usia tetap sehat, mandiri, produktif, dan memiliki kehidupan yang bermartabat.

Dadi menyebut pembangunan keluarga harus didukung data yang akurat agar intervensi pemerintah dapat diberikan kepada kelompok yang benar-benar membutuhkan.

Dalam paparannya, ia menyampaikan bahwa di Jawa Barat terdapat jutaan keluarga yang menjadi sasaran program pembangunan keluarga. Pada 2025, tercatat 1.443.350 keluarga berisiko stunting dari 7.565.605 keluarga sasaran.

Selain persoalan gizi, faktor lingkungan juga masih menjadi tantangan. Sebagian keluarga berisiko stunting tercatat belum memiliki sumber air minum utama yang layak maupun jamban yang layak.

Data tersebut menunjukkan bahwa persoalan stunting memiliki keterkaitan erat dengan kondisi sosial, ekonomi, lingkungan, kesehatan, dan pola pengasuhan keluarga.

Sekretaris Dinas, Juniardiana Rosatijawan, ST., MM., dalam kesempatan yang sama menjelaskan bahwa pembangunan keluarga dilakukan berdasarkan pendekatan siklus hidup.

Untuk balita, pemerintah mendorong GENTING, TAMASYA, dan MBG 3B. Anak dan remaja diarahkan mendapatkan dukungan melalui GATI, sementara ibu hamil dan ibu menyusui menjadi bagian dari sasaran MBG 3B.

Adapun kelompok lanjut usia didukung melalui program SIDAYA atau Lanjut Usia Berdaya.

Menurutnya, seluruh program tersebut tidak dapat berjalan sendiri-sendiri. Kolaborasi pemerintah, dunia usaha, organisasi masyarakat, komunitas, keluarga, serta masyarakat luas menjadi kunci keberhasilan.

“Berencana Itu Keren,” menjadi semangat yang digaungkan dalam kegiatan tersebut sebagai ajakan agar masyarakat semakin sadar pentingnya perencanaan kehidupan, pengasuhan, kesehatan, serta pembangunan keluarga.

Melalui berbagai program tersebut, pemerintah berharap pembangunan keluarga dapat dilakukan secara menyeluruh, mulai dari balita, anak dan remaja, dewasa, hingga lanjut usia, sehingga setiap tahapan kehidupan mendapatkan dukungan yang sesuai dan pada akhirnya memperkuat kualitas sumber daya manusia menuju Indonesia Emas 2045.***