KARAWANG — Pencegahan stunting tidak cukup dilakukan ketika seorang ibu telah hamil. Intervensi perlu dimulai jauh lebih awal, bahkan sejak masa remaja dan sebelum seseorang memasuki jenjang pernikahan.
Hal tersebut disampaikan Plt. Kepala Dinas DPPKB Kabupaten Karawang Drs. Imam Alhusaeri Bahanan, MM, dalam Sosialisasi Program Pembangunan Keluarga, Kependudukan, dan Keluarga Berencana Bersama Mitra Kerja di Kabupaten Karawang, Jawa Barat, Sabtu (19/9/2026).
Imam menjelaskan, stunting merupakan persoalan yang terbentuk dari berbagai faktor dan berkaitan erat dengan kondisi kesehatan serta gizi seseorang sejak sebelum kehamilan.
Karena itu, remaja yang kelak menjadi calon ayah dan ibu memiliki posisi penting dalam rantai pencegahan stunting. Salah satu persoalan yang perlu mendapat perhatian adalah anemia pada remaja putri.
Ia menyebut data Kementerian Kesehatan 2023 menunjukkan sekitar 32 persen remaja putri di Indonesia mengalami anemia. Kondisi tersebut berkaitan antara lain dengan kurangnya asupan zat besi, protein, dan makanan bergizi seimbang.
“Program Bangga Kencana mengusung konsep pencegahan stunting dari hulu. Artinya, upaya perbaikan gizi dan kesehatan dilakukan jauh sebelum kehamilan terjadi,” jelasnya.
Menurut Imam, salah satu bentuk intervensi yang dilakukan adalah mendorong calon pasangan untuk menjalani pemeriksaan kesehatan pranikah melalui fasilitas kesehatan dan Kantor Urusan Agama (KUA).
Pemeriksaan tersebut menjadi bagian dari upaya memastikan calon pasangan memiliki kesiapan kesehatan sebelum memasuki kehidupan rumah tangga. Program ini juga berkaitan dengan penggunaan ElSimil sebagai instrumen pendampingan calon pengantin dalam upaya percepatan penurunan stunting.
Selain kesehatan fisik, Imam menekankan pentingnya kesiapan mental dan ekonomi sebelum membangun keluarga. Menurutnya, keluarga tidak semata-mata dibentuk untuk melanjutkan keturunan, tetapi juga menjadi sistem kehidupan yang harus mampu memberikan perlindungan dan dukungan bagi seluruh anggotanya.
Ia juga menggarisbawahi pentingnya kematangan dalam membangun rumah tangga. Program Bangga Kencana, kata dia, diarahkan untuk memperkuat ketahanan keluarga, kesejahteraan keluarga, serta kualitas sumber daya manusia.
“Menikah bukan sekadar melanjutkan keturunan, tetapi membentuk sistem kehidupan yang saling menopang,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Pusat Data dan Informasi Kemendukbangga/BKKBN Rezky Murwanto, MPH, menekankan pentingnya Gerakan Cegah Stunting dan Gerakan Pentingnya Keluarga Tangguh atau Genting.
Menurut Rezky, pencegahan stunting perlu memperhatikan 1.000 hari pertama kehidupan sekaligus memperkuat perilaku dan kesadaran keluarga mengenai kesehatan serta pengasuhan anak.
Ia juga menyoroti tantangan komunikasi antara orang tua dan anak di tengah meningkatnya penggunaan teknologi digital.
Melalui program Tamasya Pengasuhan Anak, BKKBN mendorong orang tua untuk menyediakan waktu berkualitas bersama anak. Komunikasi sederhana seperti berbicara dari hati ke hati dinilai penting dalam membangun kepercayaan diri, empati, dan kecerdasan emosional anak.
Rezky mengatakan teknologi tidak harus dijauhkan dari keluarga, tetapi perlu diarahkan agar tidak menggantikan interaksi langsung antara orang tua dan anak.
“Melalui berbagai program komunikasi keluarga, BKKBN terus mendorong agar para orang tua meluangkan waktu berkualitas bersama anak, meskipun hanya satu jam setiap hari,” katanya.
Upaya tersebut menjadi bagian dari pendekatan pembangunan keluarga yang menempatkan keluarga sebagai fondasi penting dalam menciptakan generasi yang sehat, tangguh, dan produktif.






