Refleksi Nilai Spiritual dan Intelektual : Mengkongkretkan Kemerdekaan Hati, Akal dan Kiprah Beramal

Oleh: Marwan, Mahasiswa Hukum UBB / Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat UBB

 

Jendelakaba.com — Berjalannya Ramadhan 1445 Hijriyah ini tanpa disadari sudah hampir kita menginjak pertengahan bulan dalam menjalankan ibadah puasa. Suatu kebahagiaan bagi kita sebagai umat Muslim dengan tibanya bulan Ramadhan yang penuh berkah dan akan menciptakan beribu makna untuk mencapai tujuan hidup. Namun menjadi sebuah dilema kehidupan ketika menjalankan aktivitas di bulan Ramadhan hanya sebatas kewajiban belaka. Pada bulan yang penuh berkah ini sebagian besar umat Islam saya rasa masih mayoritas yang menjalankan ibadah puasa bukan dari kesadaran dan keyakinan hati untuk beramal, melainkan hanya memenuhi kewajiban yang tertanam dalam pikirannya bahwa ia sebagai umat Muslim dan ingin menyamakan pandangan orang lain terhadap dirinya bahwa ia beribadah sama halnya seperti umat Muslim lainnya yang menunaikan ibadah puasa di bulan Ramadhan. Tentunya hal semacam itu sangat miris ketika kita merefleksikan diri dengan nilai spiritualitas dan intelektual dalam memandang tujuan hidup kita didunia. Sebagai insan akademis yang berkiprah dikalangan perguruan tinggi (kampus), tentunya memandang fenomena ini sebagai problematika yang akan berdampak pada reputasi peradaban Islam. Sebab hal ini akan menjadi sebuah kebiasaan yang tertanam dalam diri seorang Muslim yang berpengaruh pada kemerdekaannya dalam berkeyakinan, berpikir dan berkiprah untuk beramal.

Dalam menyikapi fenomena yang dihadapi umat muslim di bulan Ramadhan ini, hal mendasar yang harus ditanamkan dalam diri adalah perihal keyakinan untuk berbuat dalam mencapai tujuan kita hidup didunia sebagaimana yang diajarkan dalam Islam. Menghadapi keterpurukan hati, akal ataupun mental dalam memilih untuk melakukan suatu perbuatan, maka selaras dengan firman Allah SWT. dalam Al-Quran yang menyatakan bahwa “Manusia dianugerahi cita rasa dan kemampuan memilah dan memilih mana yang benar dan mana yang salah”. (QS. As Syam: 7-8). Selain itu, harus kita jadikan dasar untuk mencapai kemanfaatan yang hakiki dibulan ramadhan maka harus mengkongkretkan langkah dalam memerdekakan hati, memerdekakan akal pikiran serta memerdekakan diri dalam berkiprah untuk mencapai kebaikan dunia dan akhirat.

Mengenai perihal mengkongkretkan kemerdekaan dalam diri melalui refleksi nilai spiritual dan intelektual yang dimaksud dalam perspektif saya mengenai fenomena di bulan Ramadhan ini ialah suatu upaya atau langkah kongkret bagaimana kita sebagai umat islam khususnya insan akademis dalam meyakinkan sesuatu yang baik, bagaimana menerapkan pemikiran-pemikiran yang positif serta bertindak dalam ranah kebaikan untuk mencapai kebenaran yang diajarkan dalam Islam. Nilai spiritual menjadi dasar keyakinan bahwa kita harus membebaskan hati dari hal-hal yang kurang baik seperti rasa iri, rasa benci, rasa dendam kepada orang lain, rasa dengki, ataupun hal-hal yang mengotori hati. Terutama dalam berbagai bentuk keberagaman sebagaimana kita temukan dalam ruang lingkup perguruan tinggi (kampus) yang menjadi ranah aktivitas sebagai insan akademis. Maka yang terpenting dalam mencapai kebahagiaan dan mewujudkan ketaatan di bulan Ramadhan tentunya harus dimulai dengan membebaskan belenggu dalam hati berupa rasa iri, dengki, dendam dan sebagainya terhadap sesama umat manusia dan beranjak untuk meyakinkan hati bahwa akan setiap kebaikan mempunyai maknanya tersendiri.

Selain itu, sebagai insan akademis yang memikirkan masa depan umat islam dan peradaban tentunya harus mengawali dari hal yang sederhana dengan membebaskan pola pikir kita dari hal-hal yang negatif. Kebebasan dari pola pikir yang negatif bukan hanya soal prasangka buruk, melainkan membebaskan pemikiran dari pola pikir yang menghamba pada kebiasaan kurang baik yang ada pada diri sendiri seperti menunda-nunda melakukan sesuatu. Sehingga pikiran kita cenderung beralih pada kultur yang selalu menunda-nunda suatu aktivitas. Hal ini tentunya akan berdampak pada terkuburnya kemerdekaan untuk berpikir dan melemahkan diri sendiri dan jangan sampai pikiran positif kita akan memburam. Seorang ulama atau filsuf yakni Buya Hamka menyatakan bahwa “Salah satu pengkerdilan terkejam dalam hidup adalah membiarkan pikiran yang cemerlang menjadi budak bagi tubuh yang malas”. Maka di bulan Ramadhan yang penuh makna ini, marilah lepaskan dan bebaskan pikiran dari hal-hal yang kurang baik terhadap orang lain maupun terhadap diri sendiri. Kemudian, kita sebagai umat Muslim tidak pernah terlepas dari kewajiban untuk berbuat kebaikan. Terutama di bulan Ramadhan yang penuh berkah ini, seharusnya kita berkiprah dalam menunaikan amal-amal kebaikan sebagai wujud kongkret sebagai pernyataan bahwa kita memerangi segala amal perbuatan yang tidak baik. Sebagaimana hadist riwayat Al-Bukhari dan Muslim yang menyatakan bahwa “Dari Abu Dza Radiyallahuanhu, beliau kerkata : “Wahai Rasulullah bagaimana menurut pandangan anda jika saya lemah (tidak mampu) untuk melakukan sebagian amal? Nabi pun bersabda, ‘engkau menahan diri (untuk tidak) melakukan keburukan terhadap manusia, sesungguhnya itu adalah sedekah darimu untuk dirimu sendiri”. Sehingga dalam menggali makna untuk mencapai keberkahan Ramadhan 1445 Hijriyah ini, maka merdekakanlah diri dari segala perbuatan yang tidak baik dan berusaha untuk membangun pondasi dalam berbuat kebaikan.

Dari berbagai perspektif yang telah saya uraikan, maka dapat kita tarik intisari dari makna kemerdekaan di bulan Ramadhan adalah bagaimana kita memerdekakan atau membebaskan diri dari segala belenggu negatif yang ada dihati, pikiran dan menahan serta menjauhkan segala perbuatan yang tidak baik. Marilah dipertengahan bulan yang penuh berkah ini, kita manfaatkan sisa setengah bulan kedepannya untuk konsisten dalam berbuat kebaikan.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *