KACAMATA DINAMIKA PEMILU 2024!

Oleh: ASEP MULDANI
Formateur/Ketua Umum HMI Cabang Bangka Belitung 2024-2025

 

Berbicara pesta demokrasi 2024 atau Pemilu kali ini bukanlah hal yang tabu tentunya, karena ini sudah merupakan pesta 5 tahunan seluruh masyarakat Indonesia.

Dari beberapa periode pemilu sebelumnya, tentu dapat kita amati bagaimana dinamika politik yang “Ter atau Di” bangun memiliki ciri khasnya sendiri, dari mulai kontestasi serta konstelasi politiknya juga dinamika di kalangan masyarakat Indonesia.

Teringat pada pilpres 2019, dinamika yang muncul dan paling melekat salahsatunya adalah munculnya istilah-istilah cebong-kampret, kadal gurun dan lain sebagainya dan lagi kentalnya isu ke agamaan dan ke sukuan yang turut ramai di perbincangkan hingga menuai berbagai macam polemik dan kritik, sehingga hampir menimbulkan perpecahan dan pengelompokan masyarakat pada 2 kelompok yang saling berseteru dan bersitegang.

Bahkan akibat daripada hal-hal seperti itu, sehingga dirasa kurangnya memunculkan ide dan gagasan atau visi-misi daripada kandidat. Justru lebih muncul pertunjukan seolah antar kandidat mengucapkan “akulah yang paling agamis, akulah yang paling jawani, akulah yang paling nasionalis” dan lain sebagainya. Namun tidak terasa adanya rasa persatuan dimana bahwa antar kandidat menunjukan bahwasanya “ini adalah visi misi saya, ini problem Indonesia sekarang dan ini jalan keluarnya, Indonesia kedepan harus seperti ini itu dan lainnya serta ini hal-hal yang meski dilakukan kedepan” hal-hal seperti ini kurang terasa di periode pemilu 2019, justru hanya perpecahan antar kelompok yang lebih terasa akibat daripada hal-hal soal ke “aku an” yang efeknya kami rasakan di lingkungan masyarakat bukanlah obrolan-obrolan gagasan daripada kandidat tapi malah saling mencela dan meng olok-olok baik kalangan muda sampai ke orang-orang tua.

Hal-hal seperti tersebut harusnya diperbaiki dan jadi cerminan untuk pemilu 2024 kali ini agar tidak menjadi pemilu dengan dinamika politik pecah belah yang dikhawatirkan menjadi perselisihan sesama masyarakat Indonesia.

Pemilu 2024 kali ini, khususnya pada pilpres memang ada yang berbeda.
Berdasarkan dari apa yang dilihat dan didengar, serta hasil pengamatan selama proses pemilu berlangsung.
Terdapat beberapa hal yang dirasa cukup signifikan terhadap perubahan pola pikir masyarakat baik yang muda sampai orang-orang tua khususnya Bangka Belitung, pembahasan yang muncul kemanapun kaki melangkah terasa lebih objektif. Yakni yang dilihat ada pada gagasan-gagasan yang muncul daripada kandidat, visi-misi dan rasionalisasi daripada gagasan-gagasan tersebut.

Serta bagaimana masyarakat golongan muda saat ini juga ikut proaktif dalam mengamati perkembangan isu-isu politik, yang biasanya kita tahu bahwa biasanya cukup jarang anak-anak muda tertarik dengan isu-isu politik.

Namun yang menjadi kekecewaan pada pesta demokrasi 2024 ini, khususnya pada pilpres yakni terjadinya “pemerkosaan konstitusi” yang didalamnya justru melibatkan seorang hakim yang mempunyai kedudukan tinggi.

Namun terlepas dari semua itu, yang saya kagumi adalah rasa persatuan yang muncul di masyarakat khususnya Bangka Belitung berbeda dengan beberapa periode sebelumnya. Dan muncul ungkapan dibeberapa masyarakat “kita boleh berbeda pilihan beda pandangan, yang penting jangan sampai memutus tali silaturahmi tali persaudaraan, juga jangan sampai kehilangan pertemanan. Siapapun yang pada akhirnya kita akan tetap mengikuti pemimpin tersebut”.

Hal seperti ini yang perlu sebenarnya dipunyai setiap masyarakat Indonesia saat dalam pemilu, ketika fase kontestasi tetap berjuang tanpa harus berpecah belah artinya tanpa harus saling mencela antar sesama, sehingga kerukunan tetap terjaga. Juga ketika kalah atau pun menang kandidat yang didukung, tidak juga untuk saling membenci tetap patuh pada pemimpin yang muncul.

Harapannya pemilu 2024 ini, tidak ada tragedi kecurangan dalam pemilihan 14 Februari 2024 nanti. ***