Gandeng Omah Sawah, Mahasiswa GIAT 16 UNNES Ngesrepbalong Gelar Pembelajaran Edukatif untuk Anak

Mahasiswa GIAT 16 Universitas Negeri Semarang (UNNES) Desa Ngesrepbalong berkolaborasi dengan Omah Sawah menggelar pengajaran edukatif di Dusun Gempol, Kecamatan Limbangan, Kabupaten Kendal, Minggu (26/7). Kegiatan yang berlangsung pukul 08.15 hingga 10.00 WIB ini diikuti oleh 21 anak usia 5–12 tahun. Program ini digelar untuk menekan ketergantungan anak terhadap gawai sekaligus mengasah kreativitas dan numerasi finansial mereka sejak dini.

Omah Sawah dipilih sebagai mitra kolaborasi karena posisinya sebagai wadah komunitas lokal yang aktif memberikan edukasi nonformal bagi warga Dusun Gempol. Lewat sinergi ini, tim mahasiswa menyusun materi interaktif yang dirancang sejalan dengan poin Sustainable Development Goals (SDGs) nomor 4, 11, dan 12, yakni tentang pendidikan berkualitas, komunitas berkelanjutan, serta konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab.

Rangkaian acara diawali dengan sesi storytelling sejarah dan praktik permainan tradisional egrang. Mahasiswa Jurusan Sejarah UNNES, Rizky Pramudhito, memaparkan asal-usul egrang untuk mengenalkan warisan budaya lokal kepada anak-anak sejak dini demi mendukung SDGs poin 11 tentang kota dan komunitas yang berkelanjutan. Setelah pemaparan materi, anak-anak diajak mencoba langsung permainan tersebut di lapangan yang dibimbing oleh Sabiq Bill Khoirot Mahasiswa Ilmu Keolahragaan.

Pengenalan kembali permainan tradisional ini dinilai penting di tengah maraknya penggunaan gawai di kalangan anak-anak. “Egrang ini permainan tradisional yang mulai jarang dimainkan karena anak-anak sekarang lebih fokus ke handphone, jadi sangat perlu kita lestarikan kembali,” ujar Sabiq.

Acara kemudian dilanjutkan dengan sesi “Numerasi Finansial Melalui Pembiasaan Menabung” yang sejalan dengan SDGs poin 4 terkait pendidikan berkualitas. Mahasiswa Pendidikan Matematika UNNES, Naurah Hajar, memberikan pemahaman dasar mengenai cara menghitung uang saku dan menekankan pentingnya menyisihkan uang sejak dini. Materi ini disambut antusias oleh para peserta, salah satunya Gwen. “Sehabis kelas ini, aku pengen nabung buat beli raket,” tutur Gwen.

Sebagai langkah konkret dari edukasi finansial tersebut, kegiatan diakhiri dengan praktik pembuatan celengan ramah lingkungan dari botol plastik bekas yang disulap menjadi bentuk lebah. Praktek ini sesuai dengan SDGs poin 12 mengenai konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab.  Pengampu sesi, Diva Aprisya dari Pendidikan Kesejahteraan Keluarga UNNES, berharap keterampilan sederhana ini dapat membawa dampak jangka panjang. “Semoga adik-adik bisa memanfaatkan limbah barang bekas untuk hal-hal yang berguna, terutama untuk mendukung kebiasaan menabung,” pungkas Diva menutup kegiatan.