SIAP GAGAL, SIAP SUKSES 

Khazanah

 

 

Oleh : Syaiful Anwar

Dosen FE Unand Kampus II Payakumbuh 

 

 

“Kegagagalan adalah kesuksesan itu sendiri”. (Dr. Mulyanto) Belajarlah kepada King! 

 

King dalam bahasa Inggris bermakna „raja‟. Hal ini mengingatkan saya kepada cerita Novelis dunia bernama Stephen King. King mengajarkan kepada kita tentang „indahnya kegagalan‟. Saya bahasakan dengan „indah‟, karena kegagalan itu sungguh indah dalam memberikan pembelajaran kepada empunya. Dan, indahnya kegagalan itu setelah Anda menuai kesuksesan dari pembelajaran atas kegagalan tersebut. Anda penasaran dengan cerita King? Ok. Baiklah saya mulai.  

 

King, ditinggalkan ayahnya ketika berusia tiga tahun. King dan kakaknya dibesarkan oleh ibunya yang bekerja di restoran untuk menghidupi mereka. 

 

Di usia tujuh tahun, King telah menulis cerpen pertamanya. Ia telah menjadi penggemar film horor di masa remaja. Selama di sekolah menengah, ia tidak begitu istimewa. Ia bukan orang terpandai atau orang terbodoh di kelasnya. 

 

Di tahun pertamanya di universitas, ia berhasil menyelesaikan novel pertamanya. Ia menyerahkannya kepada penerbit, tetapi ditolak. Penerbit menolak novelnya dengan reaksi yang buruk, yakni membuang buku itu. Di waktu lain, ia berhasil menjual ceritanya yang lain hanya dengan harga US$ 35. 

 

Di bulan Juni 1970, King lulus dari Universitas Maine dengan gelar sarjana muda sastra Inggris dan ijazah untuk mengajar di sekolah menengah. Karena tidak berhasil menjadi guru, ia menerima pekerjaan tidak tetap sebagai buruh di sebuah industri pakaian. Bahkan, ia pun mau bekerja sebagai penjaga pom bensin untuk upah sebesar US$1.25 per jam. 

 

Di bulan Januari 1971, ia menikah. King memenuhi kebutuhan hidupnya dengan uang hasil penjualan cepennya ke majalah pria dan uang simpanannya. Bahkan, di satu waktu, ia harus memakai uang pinjaman dari siswa istrinya. 

 

Di musim gugur tahun 1971, ia berhasil mendapat pekerjaan sebagai guru di Akademi Hampden dengan pendapat US$ 6,400 per tahun. Ia menulis cerpen di malam hari dan di akhir minggu. Ia terus menulis cerpen dan novel untuk menaikkan pendapatannya. Kebanyakan dari hasil karyanya ditolak. 

 

Suatu hari, ia mulai menulis sebuah cerita tentang gadis remaja bernama Carietta White. Setelah menyelesaikan beberapa halaman dan mengingat banyaknya penolak yang telah ia alami, ia berpendapat bahwa cerita ini tidak bagus. Ia remas kertas itu dan dilemparnya ke tempat sampah. Istrinya mengambil kertas-kertas itu, membacanya dan mendorong dia untuk menyelesaikanya. Akhirnya, novel itu selesai di bulan Januari 1973. 

 

Novel itu sangat menarik bagi para penerbit. Akhirnya, hak untuk menerbitkan novel yang berjudul Carrie itu diperoleh New American Library seharga US$ 400,000,00 pada tanggal 12 Mei 1973. Dengan pendapat sebesar itu, Stephen King memutuskan akan mengoftimalkan waktunya untuk menulis novel dan berhenti mengajar. Sekarang, Stephen King adalah pengarang buku paling sukses. Bukunya telah diterjemahkan ke dalam 33 bahasa, diterbitkan di 35 negara, dan telah dicetak lebih dari seratus juta buku. 

 

Pada satu waktu, kelima bukunya pernah masuk dalam daftar “New York Times Best Sellers”. Menurut majalah Forbes, ia adalah pengarang terkaya di dunia. Di tahun 1996 saja, pendapatannya sebesar US$ 84 juta. Banyak hasil karyanya yang telah difilmkan ke layar lebar, antara lain: Carrie, The Dead Zone, The Sining, Christine, Salem‟s Lot, Firestarter, Cujo, Misery, The Shawshank Redemtion, dan The Green Mile. Lihatlah, King telah menjadi „raja‟ uang dari novelnya. Anda bayangkan saja, bagaimana andaikata King tidak mau mendengar saran sang istri, lalu membuang novelnya. 

Wah…tentunya nggak jadi milyarder kan. 

Nyalakan Lampu Sebagaimana Edison! 

Beranilah untuk menghadapi kegagalan, karena kegagalan memberikan banyak sekali pelajaran yang berharga. Orangorang yang berjiwa besar biasanya dibesarkan oleh kegagalan, tapi sebaliknya, orang-orang berjiwa kerdil umumnya dilumpuhkan oleh kegagalan. 

 

Thomas Alpa Edison dikisahkan, memerlukan 9997 kegagalan dalam percobaannya sebelum berhasil menemukan lampu yang menyala. Kalau Anda ingin membuat lampu yang bisa menyala apakah Anda harus melakukan percobaan sebanyak yang dilakukan Edison. Mengulangi kesalahan yang dilakukannya. 

 

Menghabiskan uang, energi dan waktu sebanyak yang dilakukan Edison? Tentu saja tidak! Yang perlu Anda lakukan adalah belajar, berguru, bekerjasama dengan Edison dan bertanya bagaimana Edison melakukannya? Hasilnya tidak sampai satu hari Anda sudah berhasil membuat lampu yang bisa menyala. Begitu juga dengan kehidupan dan bisnis ini, meskipun tidak secepat membuat lampu. 

 

Kegagalan = Kesuksesan 

Menurut kami, dalam rumus bisnis maupun kehidupan, kegagalan=kesuksesan. Antara kegagalan dan kesuksesan itu beda tipis, sama halnya antara benci dan cinta. Maka, kami berani mengatakan bahwa gagal sama dengan sukses. Atau, dengan ungkapan lain, kegagalan adalah kesuksesan itu sendiri. Bukankah kesuksesan itu merupakan akumulasi dari kegagalan-kegagalan? Bukankah kegagalan itu merupakan guru paling pintar untuk menerbangkan Anda ke langit kesuksesan? 

 

#Syaiful_Anwar

#Fakultas_Ekonomi

#Universitas_Andalas

#Kampus2_Payakumbuh

#Enterpreneur_Mentality

#Siap_Gagal_Siap_Sukses

 

Respon (1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *