JANGAN JANGAN KARENA PERBUATAN SYIRIK KITA

Khazanah

 

 

Oleh : Syaiful Anwar

Dosen FE Unand Kampus II Payakumbuh 

 

“Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan Kami kepada Allah dengan sedekat- dekatnya”. Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar.” (QS. Az-Zumar [39]: 3) 

 

Kehidupan kita ini ada yang punya, ada yang mengendalikan, dan ada yang mengatur, dan ada yang mengatur. Dialah Allah. Allah Rabbul ‘alamin. Kita pun tahu, dalam kehidupan ini, sesungguhnya tidak ada penolong dan pelindung kecuali diri-Nya. Pun tidak ada pemberi karunia, kecuali diri-Nya semata. Kehidupan ini berjalan di atas izin-Nya. Akankah kita masih perlu tuhan selain diri-Nya, dan tidakkah kita cukupkan Allah saja sebagai Tuhan kita…? 

“Tiadakah kamu mengetahui bahwa kerajaan langit dan bumi adalah kepunyaan Allah? Dan tiada bagimu selain Allah seorang pelindung maupun seorang penolong.” (QS. Al-Baqarah [2]: 107) 

 

Saudaraku, Allah Maha Pencemburu. Dia tidak senang diduakan. Dia menghendaki, sekali kita bertuhan Dia, hendaknya kita mempunyai komitmen hanya bertuhan kepadaNya, kepada Allah. Istiqamah. Tapi lihatlah kehidupan kita. Adakah Dia kita duakan? Kita shalat, tapi dalam kantung kita tersimpan azimat pembawa keberuntungan atau penangkal kesialan. Kita berdagang. Lalu dalam perdagangan yang kita lakukan, kita lengkapi dagangan kita dengan azimat ini azimat itu. Kita pegang wafak ini dan wafak itu. Seakan tidak cukup Allah sebagai pelindung dan penolong kita. Lihatlah lagi dalam pekerjaan kita, prosesnya naiknya jabatan dan karier kita, rumah kita, kantor kiya, usaha kita, dan lihatlah terus bagianbagian yang siapa tahu ternyata kita sudah melibatkan tuhan lain selain Allah; seperti ‘orang pintar’, dukun, paranormal sesat, sesaji ini sesaji itu, pegangan ini pegangan itu, dan lain sebagainya. 

 

Belum lagi ketika kita memperlakukan Allah bukan seperti Tuhannya alam ini. Kita bekerja, bekerja saja tanpa melibatkan Allah. Kita berusaha, berusaha saja tanpa beribadah kepadaNya, atau seadanya dalam beribadah. Kita hidup, hidup begitu saja, seakan tidak ada Allah di kehidupan ini. Walhasil, apakah ini termasuk bertuhan Allah….? Atau jangan-jangan malah bertuhan…. 

 

Saudaraku, banyak kemusyrikan yang tidak kita sadari. Karena ia terkadang bersembunyi di balik kalimat-kalimat indah, yang kadang bahkan bersembunyi di balik kalimat Tuhan juga. Coba saja lihat iklan-iklan sesat tentang azimat sakti, mereka tidak segan-segan bilang bahwa azimat-azimat itu adalah hasil tirakat mereka, hasil pendekatan kepada Yang Maha Agung. Atau kadang dibilang, “Kita tidak sedang menuhankan azimat ini, kita hanya menggunakan benda-benda magis ini sebagai perantara saja menuju Allah.” Padahal Allah tidak butuh perantara. Allah tidak butuh surat pengantar untuk menuju Diri-Nya. Dia buka pintu selebar-lebarnya bagi siapa saja yang ingin memasukinya. Langsung, tidak perlu perantara. Dia juga menyediakan waktu-Nya untuk mendengarkan keluhan kita, permasalahan kehidupan kita, keinginan dan maksud kita, langsung tanpa usah lewat perantara. Karena Dia Maha Dekat, dan Dia sudah ada di dekat kita. Bahkan lebih dekat dari urat leher kita sendiri. Tinggal kita yang menyiapkan diri menerima kehadiran kuasa-Nya. 

 

“Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan Kami kepada Allah dengan sedekat- dekatnya”. Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar.” (QS. Az-Zumar [39]: 3) 

 

“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.” (QS. Qâf [50]: 16) 

 

Kita sama-sama mengoreksi diri. Siapa tahu, kita berteriakteriak mengaku hamba Allah ternyata kita masih menduakanNya. Kita mengaku dekat dengan Allah, justru kita menjauhiNya. Kita percaya bahwa Allah Maha Penolong, namun justru kita meminta tolong kepada selain-Nya, bahkan lebih memercayainya dibanding memercayai Allah sebagai sebaikbaik penolong dan pelindung. 

 

Saudaraku, dulu saya sempat mengira, dengan kemajuan zaman, manusia pasti terlepas dengan sendirinya dari berhalaberhala, dari mempersekutukan Allah. Ternyata saya salah. Kemusyrikan malah tetap (semakin) marak. Tidak orang bodoh, tidak orang pintar, tidak orang yang sekolah rendah, tidak orang yang sekolah tinggi, kadang bisa terjerumus ke dalam kemusyrikan. 

 

Saudaraku, mari kita introspeksi, jangan-jangan tersendatnya rezeki, keresahan hati, dan kehancuran hidup kita, disebabkan oleh perbuatan-perbuatan syirik kita. Atau, pengakuan adanya Allah hanya sebatas diucapan tidak sampai kepada keyakinan hati dan sikap.  

  • Sejatinya Allah Maha Pemberi rezeki. Tapi ketika Dia hendak memberi rezekikan rezeki spesialnya kepada seseorang, Dia melihat ada tuhan lain yang diyakini oleh orang tersebut bisa membawa keberuntungan, baik itu dalam bentuk azimat, wafak pegangan, ataupun doa-doa sesat (yang bercampur mantera yang tidak ada dalilnya). Maka Allah seolah-olah berkata, “Mintalah dulu pada tuhanmu itu. Baru kalau dia tidak memberimu rezeki, kamu mintakan rezeki lagi padaku. Tapi kau singkirkan dulu tuhanmu dari hadapan-Ku.” 
  • Sejatinya Allah Maha Kaya, namun ketika kita mengambil jalan pintas dengan jalur kemusyrikan, maka kekayaan itu pun menjadi bara. Seseorang itu kaya sih kaya, tapi dibuat miskin jiwanya oleh Allah, dibuat hatinya resah karenanya. Maka Allah seolah-olah berkata, “Silakan kau kaya dengan jalanmu meminta tolong kepada selain-Ku. Tapi ketahuilah kekayaan itu bukan kekayaan hakiki. Aku tidak pernah Meridhai siapapun yang menyekutukan-Ku.”  
  • Sejatinya Allah Maha Melindungi. Ketika seseorang terancam jiwanya, terancam kehidupannya, Dia akan mengulurkan bantuan-Nya. Tapi apa daya, Dia melihat ada tuhan lain yang dijadikan tuhan pelindung. Maka Dia seolah-olah berkata, “Aku adalah Maha Pelindung. Aku akan melindungi orang-orang yang meminta perlindungan dariKu. Tapi Aku tidak akan melindungi orang-orang yang menduakan Aku. Mintalah perlindungan dari tuhantuhanmu. Kalau mereka tidak dapat melindungi, dan pasti mereka tidak dapat melindungi, datanglah kalian kepadaKu, dan akan Kuberi perlindugan-Ku. Tapi kau singkirkan dulu tuhan-tuhan pelindungmu dari hadapan-Ku dan kau minta ampun kepada-Ku.” 
  • Sejatinya Allah Maha Mengangkat derajat seseorang. Tapi ketika Allah akan mengangkat derajatnya, akan memuliakannya, Allah melihat ada tuhan lain yang dipercayai bisa memuliakannya. Maka seolah-olah Allah berkata, “Aku akan mengangkat derajatmu, tapi kamu malah minta tolong kepada selain-Ku. Pergilah minta kemuliaan kepadanya. Tapi ketahuilah, kemuliaan hanya ada pada-Ku, ketinggian derajat hanya dari sisi-Ku.” 

 

Saudaraku, kita berlindung kepada Allah dari perbuatan syirik (menyekutukan Allah). Dan jika tanpa disadari kemusyrikan-kemusyrikan selama ini telah kita perbuat, mari kita memohon ampunan-Nya dan meninggalkan perbuatanperbuatan syirik tersebut. Dengan harapan, Allah merindukan kita lagi, rindu mengulurkan rahmat-Nya kembali. 

 

“(Mereka berdoa): “Ya Tuhan Kami, janganlah Engkau jadikan hati Kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada Kami, dan karuniakanlah kepada Kami rahmat dari sisi Engkau; karena  sesungguhnya Engkau-lah Maha pemberi (karunia)”. (QS. Ali Imran [3]: 8)

 

#Syaiful_Anwar

#Fakultas_Ekonomi

#Universitas_Andalas

#Kampus2_Payakumbuh

#Tuhan_Tidak_Pernah_Buta

#Jangan_Jangan_Karena_Perbuatan_Syirik_Kita

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *