Atok Kulop, Urang Kemuje

Oleh : H. Suplan Azhari

Jendelakaba.com — Tasikmalaya, 19 Mei 2024, Ahmadi “Atok Kulop” Sofyan, saya minta menjadi salah satu pembicara dalam Acara Bedah Buku “Senja Yang Tersisa” 11 Mei 2024 lalu.

Dia sedikit telat, akan tetapi Pembawa Acara bersedia menunggu sepuluh menit untuk memulai acara di BDT (Baca di Tebet) Jakarta, pada pukul 16.00 WIB. BDT ini unik, perpaduan cafe dan perpustakaan dengan jumlah buku lebih dari 26 ribu. BDT ini milik Kanti B.Janis seorang Lawyer dan Penulis.

Satu jam sebelumnya saya sudah melihat dari kejauhan Sang Atok Kulop di Acara Halal Bi Halal Masyarakat Bangka Belitung di Gedung LIPI Jakarta. Saya sengaja tidak menemuinya mengingat dia hadir bersama para pejabat pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Bukan kelas saya untuk bertemu dengan para petinggi daerah kelahiran saya itu. Tahu dirilah, saya datang dari Tasikmalaya untuk hadir di acara ini, tanpa undangan, khawatir diusir panitia. Cukuplah bagi saya berada di bazaar makanan khas Bangka Belitung. Lebih asyik “bekisah” melepas kangen dengan beberapa sahabat lama yang jarang ketemu. Sambil menikmati tekwan, pempek, mie bangka dan es kacang.

Kehadiran Atok Kulop di acara bedah buku karya pamannya ini memberi warna tersendiri. Dia keponakan saya, seorang penulis beken sudah banyak menerbitkan buku dan tulisan pada kolom harian di Babel Pos dan media cetak maupun online lainnya. Dia nampaknya mengagumi tulisan di buku saya yang kedua ini. Tidak menyangka katanya, pamannya ini masih bisa mengukir kisah hidupnya walau umurnya tidak muda lagi, 77 tahun.

Atok Kulop menceritakan bagaimana pamannya memberi motivasi agar dia segera menyelesaikan studinya di Malang, beberapa tahun yang lalu. Dia sendiri tidak tahu kalau pamannya sebetulnya tidak pernah bisa menyelesaikan studi Strata Satu.

Tahun 1987, saya hadir di acara Haflah

Pesantren Al Islam Desa Kemuja tempat Ahmadi Sofyan menuntut ilmu. Saya melihat talenta pada diri Ahmadi Sofyan ketika dia ikut menjadi pelakon teater di acara tersebut. Sejak kecil dia memang berbeda dengan saudara kandungnya yang lain. Selesai sekolah di Madrash Tsanawiyah (setingkat SMP) dia berani sendirian naik kapal laut dari Bangka ke Jakarta. Karena dia yakin saya akan menjemputnya di Pelabuhan Tanjung Priok. Walaupun sempat saya membully dia ketika itu, agar dia tingak-tinguk mencari saya.

Ketika mengikuti pendidikan di Pondok Modern Al- Barokah Kertosono Nganjuk (Cabang Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo), dia dua kali kepalanya digundul, karena “kenakalannya” dan kebanyolannya.

Selama kuliah di Malang, banyak hal yang membuat dia terbentuk sebagai orang yang sering memberontak dengan situasi di kampus dan di luar kampus.

Sudah beberapa kali dia masuk keluar kantor Polisi, merasakan ruang tahanan Polres Malang karena ikut berdemo. Ini konsekwensi sebagai Ketua HMI ( Himpunan Mahasiswa Islam) dan juga Ketua BEM, yang harus tidak tinggal diam membela keberpihakannya pada kepentingan umum.

¬†Tidak salah bila dia pindah ke Bangka setelah selesai kuliah, namanya terdaftar di Polres Bangka dan Pangkalpinang, sebagai orang “bermasalah”.

Bukan Atok Kulop kalau tidak bisa bersahabat dengan petinggi Polri di Bangka, walaupun dia sering bikin risih aparat kepolisian. Dia pun sangat dekat dengan para pejabat Pemerintah Daerah di Babel, yang sering bersilaturahim ke kebon Atok Kulop di Desa Kemuja.

Disamping itu dia masih terus menulis tentang apa saja yang ada di benaknya. Tulisannya yang menggelitik dan membuat pejabat sewot, tak jadi masalah buat Atok Kulop untuk mengkritisi kebijakan pejabat publik di Bangka.

Ahmadi Sofyan sudah banyak menulis

tentang biografi pejabat baik Bupati, Walikota, tokoh politik, tokoh agama, bahkan Menteri. Pengalaman menulis dan menjadi pembicara di beberapa even di kampus-kampus, inilah yang membuat dia sangat dikenal di kalangan masyarakat.

Dari sinilah kenapa dia sudah beberapa kali dilirik oleh petinggi partai politik untuk ikut bertarung di Pilkada.

Dia mengatakan kepada saya, bukan kalah di Pilkada yang dia takuti tetapi kalau menang. Dia berpikir apa ya saya ini pantas jadi Kepala Daerah atau wakilnya.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *