Wawan Mataliu: Indonesia Berpotensi Jadi Safe Haven Investasi Global

Jendelakaba.com – Tokoh pemuda Wawan Mataliu menyampaikan bahwa arah kebijakan investasi nasional saat ini difokuskan pada transformasi ekonomi menuju pemerataan pembangunan serta peningkatan nilai tambah. Hal tersebut disampaikannya dalam webinar literasi digital bertema “Akselerasi Investasi dan Perdagangan Global” yang berlangsung pada Rabu, 11 Maret 2026.

Menurut Wawan, visi pembangunan ekonomi Indonesia menuju tahun 2026 adalah menjadikan Indonesia sebagai safe haven ekonomi dunia, yaitu negara yang stabil dan menarik bagi investor global. Transformasi ekonomi ini diarahkan dari pola ekonomi yang sebelumnya bersifat ekstraktif atau berbasis ekspor bahan mentah menuju ekonomi yang mampu menghasilkan nilai tambah melalui penguatan sektor manufaktur dan jasa.

Ia menjelaskan bahwa target investasi nasional hingga tahun 2026 menitikberatkan pada investasi yang berkelanjutan dan berkeadilan, sehingga pertumbuhan ekonomi tidak hanya meningkat tetapi juga memberikan manfaat yang lebih merata bagi masyarakat. Dalam tiga tahun terakhir, realisasi investasi nasional menunjukkan tren yang cukup positif. Pada tahun 2023, realisasi investasi tercatat sekitar 1.418,9 triliun rupiah. Angka tersebut meningkat menjadi 1.714 triliun rupiah pada tahun 2024 dan diperkirakan mencapai sekitar 1.900 triliun rupiah pada tahun 2025.

Pertumbuhan investasi tersebut relatif stabil di atas 15 persen meskipun Indonesia sedang mengalami masa transisi kepemimpinan nasional. Dari sisi sektoral, Wawan menyebut investasi di bidang mineral, khususnya hilirisasi logam, memberikan kontribusi sekitar 30 hingga 35 persen dari total realisasi investasi nasional. Wilayah yang menjadi pusat pengembangan sektor ini antara lain Sulawesi Tengah dan Maluku Utara, dengan fokus pada pembangunan industri smelter untuk komoditas seperti nikel, bauksit, dan tembaga yang menjadi bagian penting dalam rantai pasok industri global.

Sementara itu, pada sektor non-mineral, investasi diarahkan pada penguatan industri manufaktur dan jasa seperti industri makanan, transportasi, serta sektor logistik dan pergudangan. Menurutnya, sektor-sektor tersebut memiliki keunggulan dalam menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar serta memberikan efek pengganda terhadap pertumbuhan ekonomi daerah. Dengan demikian, sektor mineral berperan besar dalam menghasilkan devisa negara, sedangkan sektor non-mineral berkontribusi signifikan dalam penciptaan lapangan kerja dan penguatan ekonomi daerah.***