Santri GEN Z Dipersimpangan dan Kebimbangan

Oleh: Assa’adatil Abadiyyah Rahmat, Mahasiswa Hukum Ekonomi Syari’ah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta 2025, Alumni Ponpes Bustanul Yaqin Pungguang Kasiak Lubuk Alung Sumatera Barat

SANTRI. Sebutan yang sangat unik bagi mereka yang dengan sungguh dan tak kenal lelah untuk mempelajari ilmu agama Islam yang diwadahi oleh lembaga pendidikan, yang seringkali kita sebut dengan istilah Pesantren. Santri itu multitalenta. Mereka tidak hanya berfokus mendalami ilmu agama saja, tetapi mereka juga belajar tentang apa arti kehidupan yang sesungguhnya. Mereka harus mengorbankan rindunya yang sangat berat kepada orang yang mereka sayangi. Karena memang santri harus dilatih untuk hidup mandiri. Waktu tempuh santri masuk ke pondok pesantren sangat beragam. Ada yang masuk pesantren saat ia masih SD, SMP, bahkan ia memulai nyantri saat ia SMA, hingga saat ia baru menjadi Mahasiswa. Tapi kebanyakan orang tua memasukkan anaknya ke pondok pesantren saat ia memulai jenjang pendidikannya di SMP hingga lulus SMA.

Ketika santri memilih jalan untuk melanjutkan pendidikannya yang lebih tinggi, ia akan dihadapkan oleh 2 pilihan, tetap melanjutkan menuntut ilmu di pesantren, atau menambah ilmu baru di dunia perkuliahan. Masing-masing dari dua pilihan itu memiliki manfaat dan resikonya tersendiri. Manfaat dari pilihan pertama yaitu ia akan lebih paham akan ilmu agama secara mendalam. Dan resikonya, sebenarnya tidak terlalu besar, namun ia tidak mendapatkan ilmu yang tidak akan ia dapati di dunia perkuliahan. Sedangkan manfaat dari pilihan kedua sangatlah banyak. Ia bisa mengintegrasikan antara ilmu yang ia dapati selama di pesantren dengan ilmu yang ia dapati selama berada di perkuliahan. Bagi santri yang memilih kuliah sambil mondok, resikonya tidak akan besar. Akan tetapi, bagi santri yang memilih jalan ninjanya untuk hidup mandiri di kost, disitulah letak resiko dan tantangan terbesarnya. Ia harus bisa memanajemen waktunya sendiri tanpa ada yang mengingatkan. Dari sanalah santri sering kehilangan jati dirinya.

Kehilangan jati diri sering diibaratkan sebagai krisis identitas-istilah popular di kalangan gen z. Istilah krisis identitas pertama kali ditemukan dan dipopulerkan oleh psikolog perkembangan bernama Erik H. Erikson. Menurut teorinya, krisis identitas merupakan fase dimana seseorang kehilangan arah tujuan hidup, tidak tau siapa dirinya yang sebenarnya, dan mencari tahu siapa jati dirinya yang sebenarnya. Proses menuju fase dewasa, alias remaja sering mengalami krisis identitas. Namun, tidak menutup kemungkinan orang dewasa yang mengalami krisis identitas.

Ada 8 fase perkembangan psikologis menurut Erik H.Erikson. Tahap pertama dimulai pada usia 0-1 tahun, dimana bayi membangun kepercayaannya kepada orang lain. Tahap kedua pada usia 1-3 tahun, bayi membangun sikap mandiri, percaya diri, dan berani mengambil resiko. Tahap ketiga pada usia 3-6 tahun, anak akan membangun rasa inisiatifnya. Tahap keempat pada usia 7-11 tahun, anak akan mengembangkan kompetensi melalui ilmu yang ia dapatkan di sekolah. Berikutnya, pada usia 12-18 tahun ia akan membangun jati dirinya yang sebenarnya, usia 19-29 tahun berfokus pada keintiman, usia 30-64 tahun berfokus pada kontribusinya untuk Masyarakat, usia 65 tahun keatas, ia akan menikmati masa tua dengan Bahagia atas pencapaiannya diusia muda. Semua ini akan terjadi jika seseorang berhasil melewatinya. Jika tidak, maka sebaliknya yang akan ia dapatkan.

Dari teori diatas, Erik H. Erikson mengemukakan bahwa memang di massa-masa menjadi mahasiswa baru, seringkali terjadinya krisis identitas, terutama bagi para santri gen z yang baru menyandang gelar mahasiswa. Kenapa krisis identitas bisa terjadi bagi para santri? Menurut kacamata saya-yang juga seorang santri, hal ini terjadi karena perbedaan suasana dan budaya selama di pesantren dengan dunia perkuliahan.

Selama nyantri, kita tidak melihat secara langsung bagaimana perkembangan dunia diluar sana, karna sibuk dengan hafalan-hafalan dan kajian-kajian tanpa mengikuti dan memikirkan bagaimana perkembangan diluar sana. Selama di pesantren, kami dilarang menggunakan handphone. Namun ketika hidup mandiri di kos, santri tiba-tiba memiliki akses penuh terhadap internet tanpa pengawasan.

Seringkali kita mengiyakan semua ajakan orang lain-teman tanpa memilah baik buruknya dari kegiatan tersebut. Banyaknya informasi dan tren yang sebenarnya tidak penting membuat kita haus akan hal-hal baru hingga tertanam dalam diri bahwa saya harus mengikuti trend ini, trend itu. Inilah yang disebut dengan Fear Of Missing Out.

Jika dilihat dari sudut pandang islam, seseorang dikatakan remaja apabila ia sudah baligh (matang fisik) dan berakal. Dengan kata lain, individu yang mencapai usia baligh dan berakal ini mempunyai tanggung jawab untuk melaksanakan dan menjalankan perintah Tuhannya dan menjauhi larangan Tuhannya dan melakukan perbuatan yang mengandung unsur positif atau kebaikan seperti, menutup aurat, tidak meninggalkan sholat, meminta izin Ketika memasuki kamar orang tua, dan sebagainya. Usia ini disebut sebagai mukallaf. Jika usia seseorang sudah mencapai mukallaf, disanalah mereka mulai kehilangan identitasnya, karena mereka mulai jauh dari fitrah dan tujuan penciptaannya sebagai hamba Allah, karena berbagai godaan dunia luar sehingga membuat mereka bimbang, dan ingin merasakan kenikmatan duniawi yang fana.

Tak lupa pula, Al-Qur’an juga mengisahkan sosok remaja yang mampu menemukan identitasnya dan sosok remaja yang kehilangan dan krisis akan identitasnya.  Seperti, Ashabul Kahfi yang memiliki keimanan yang tinggi sehingga tidak goyah walaupun taruhannya nyawa karena melanggar aturan dari raja pada waktu itu. Dan Ismail pada saat ia remaja yang menjalankan perintah tuhannya dengan penuh keyakinan meskipun nyawa taruhannya. Sebaliknya, remaja Kan’an yang tidak mengindahkan ajakan ayahnya untuk mempunyai keyakinan yang sama. Begitu juga dengan remaja Qobil yang rela menghabisi nyawa saudara kandungnya sendiri. Remaja seperti ini cenderung mengikuti hawa nafsunya meskipun jalan yang ditempuhnya sesat.

Solusi untuk mengatasi krisis identitas bagi santri gen-z ialah, dengan tetap istiqomah dan mempertahankan nilai dasar yang dibawa selama di pesantren. Jangan lupa juga untuk merefleksikan diri setiap hari untuk bisa mengetahui sejauh mana perkembangan, sehingga santri mengetahui Dimana letak kelebihan dan kekurangannya pada hari itu. Santri juga harus pandai memilih teman selama kuliah. Karna teman sangat berpengaruh untuk perkembangan santri kedepannya. Jika temannya baik, secara tidak langsung ia akan menjadi baik juga. Sebaliknya, jika ia berteman dengan orang yang memiliki sifat yang buruk, maka secara tidak langsung ia akan mengikuti sifat temannya. Terakhir, santri memadukan antara ilmu yang ia dapati di kampus dengan ilmu yang ia pelajari selama di pesantren.

Pada akhirnya, setiap kesulitan pasti ada kemudahan. Semua permasalahan pasti ada solusinya. Dan kalaupun solusinya tidak ada, berarti solusinya itu memang tidak ada dan tidak harus dipikirkan. Karna pada dasarnya, krisis identitas merupakan hal wajar yang terjadi di kalangan remaja, dewasa, maupun santri. Karna ini merupakan proses untuk menuju pembentukan jati diri yang matang, versi terbaik dari diri kita, hingga belajar untuk mencintai diri sendiri.

Pesan untuk santri:
Kamu boleh menuntut ilmu sejauh dan setinggi mungkin, tapi ingatlah, kamu adalah seorang santri. Tidak ada yang Namanya mantan santri, meskipun hanya belajar selama 1 hari. Jangan pernah malu menjadi santri, justru berbanggalah!!! Karna santrilah yang akan melanjutkan perjuangan bangsa.