Pelantikan Pengurus Baru LAPMI HMI Cabang Semarang Dorong Jurnalis Mahasiswa Berani Keluar dari Zona Nyaman dan Menjadi Pers yang Menggerakkan

Jendelakaba.com — Lembaga Pers Mahasiswa Islam (LAPMI) Tuntas Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Semarang resmi dilantik. Dalam pelantikan pengurus periode 2026-2027 di Aula Cenderawasih Kesbangpol Provinsi Jawa Tengah, Sabtu, 25 April 2026, pers mahasiswa didorong tak sekadar menjadi pencatat peristiwa, melainkan motor penggerak kesadaran publik.

Ketua Umum HMI Cabang Semarang, Muhammad Nabil Muallif, dalam sambutannya menekankan urgensi literasi di tengah dinamika pergerakan. Menurut dia, tradisi menulis adalah medium eksistensial yang wajib dirawat oleh para kader.

“Tulisan adalah bentuk manifestasi mengenalkan diri kita yang tidak punya apa-apa untuk dikenal dunia,” ujarnya di hadapan peserta pelantikan.

Pesan senada ihwal muruah pers disampaikan oleh Dewan Kode Etik LAPMI Tuntas, Nayaka Rama Yoga. Demisioner pengurus LAPMI tersebut mewanti-wanti agar jurnalis mahasiswa tak gentar menyuarakan fakta ke publik. Ia mengutip adagium klasik sebagai postulat etik yang harus terus dipegang.

“LAPMI harus mengatakan kebenaran. Katakanlah yang benar walaupun pahit akibatnya, qulil haqqa walau kana murran,” kata Nayaka menegaskan.

Prosesi serah terima jabatan ini turut disaksikan oleh Pendiri Sekolah Andalusia, Umar Al Faruq, serta dihadiri Ketua Umum Kohati Cabang Semarang.

Seusai menerima estafet kepemimpinan, Direktur Utama LAPMI Tuntas yang baru, Muhammad Alfarisi, menyatakan jabatannya bukanlah sebatas gelar seremonial atau rutinitas organisasi. Ia mendesak jajarannya untuk merespons derasnya arus informasi dengan mengedepankan integritas jurnalistik, bukan semata kecepatan.

“LAPMI harus hadir sebagai ruang dialektika gagasan, laboratorium intelektual kader, dan corong kebenaran yang berani menyuarakan realitas. Kita tidak boleh menjadi pers yang hanya mencatat, tetapi harus menjadi pers yang menggerakkan,” tuturnya.

Guna mewujudkan visi tersebut, Alfarisi menginstruksikan seluruh kadernya untuk membangun independensi pers yang memihak pada keadilan dan kemanusiaan. Ia menuntut agar organisasi ini kembali menjadi episentrum gerakan intelektual mahasiswa.

“Kita harus berani keluar dari zona nyaman. Tidak cukup hanya aktif secara administratif, tetapi juga produktif secara ideologis dan intelektual,” ujar Alfarisi.***