Jendelakaba.com — Literasi digital menjadi elemen penting dalam upaya nasional mengentaskan kemiskinan, terutama di tengah meningkatnya kesenjangan akses teknologi di masyarakat. Hal tersebut mengemuka dalam Forum Diskusi Publik bertajuk “Literasi Digital Sekolah Rakyat Sebagai Motor Pengentasan Kemiskinan” yang digelar pada Jumat, 7 November 2025.
Anggota Komisi I DPR RI, Elnino M. Husein Mohi, menegaskan bahwa kemiskinan tidak dapat dipandang semata sebagai persoalan ekonomi, tetapi juga sebagai ketidakmampuan masyarakat mengakses informasi dan teknologi. “Berdasarkan data BPS per Maret 2024, ada 25,22 juta penduduk miskin. Penurunannya memang terjadi, namun jurang antara mereka yang melek digital dan yang tertinggal justru makin lebar,” ujar Elnino.
Ia menjelaskan bahwa Sekolah Rakyat — sebagai model pendidikan alternatif berbasis kemandirian — dapat berfungsi strategis sebagai jembatan digital bagi masyarakat akar rumput. Menurutnya, digitalisasi Sekolah Rakyat akan membuka peluang ekonomi baru. “Jika warga desa bisa belajar pemasaran online, literasi keuangan digital, hingga keamanan data, maka Sekolah Rakyat tidak hanya menjadi ruang belajar, tapi pusat transformasi ekonomi rakyat,” tambahnya.
Hasil survei Kominfo tahun 2023 mencatat skor literasi digital nasional baru mencapai 3,65 dari skala 5, sementara laporan APJII menyebut sekitar 25 persen wilayah Indonesia masih belum mendapatkan akses internet stabil. Kondisi ini, menurut Elnino, menunjukkan bahwa pembangunan infrastruktur harus diimbangi dengan peningkatan kapasitas digital manusia.
Ia mendorong kolaborasi lintas sektor untuk mendorong percepatan literasi digital. “Pemerintah, kampus, dan komunitas harus bersatu. Sekolah Rakyat bisa menjadi simpul kolaborasi yang menyentuh masyarakat paling bawah,” tegasnya.
Elnino menutup paparannya dengan menekankan cita-cita Indonesia merata digital. “Kita ingin anak petani, anak nelayan, hingga masyarakat di pelosok punya kesempatan yang sama untuk naik kelas melalui teknologi.”***






