Ketahanan Energi Dinilai Menjadi Kunci Stabilitas Ekonomi dan Perlindungan Daya Beli Masyarakat

Jendelakaba.com, Jakarta, 2 Maret 2026 — Ketahanan energi dinilai memiliki peran strategis dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional serta melindungi daya beli masyarakat di tengah ketidakpastian ekonomi global. Isu tersebut menjadi pembahasan utama dalam Forum Diskusi Publik bertema “Ketahanan Energi: Pilar Kedaulatan Nasional” yang diselenggarakan pada Senin (2/3).

Forum menghadirkan Anggota Komisi I DPR RI Dr. Desy Ratnasari, Sekretaris Jenderal Dewan Energi Nasional Dr. Ir. Dadan Kusdiana, serta Dekan Fakultas Sosial & Ekonomi Universitas Teknologi Nusantara M. Zeinny sebagai narasumber.

Dalam diskusi tersebut disampaikan bahwa energi memiliki keterkaitan langsung dengan kondisi ekonomi masyarakat. Kenaikan harga energi global terbukti berdampak berantai terhadap inflasi, harga pangan, biaya transportasi, hingga operasional sektor usaha kecil dan menengah.

Dr. Desy Ratnasari menjelaskan bahwa setiap gejolak harga energi dunia secara langsung memengaruhi stabilitas ekonomi domestik. Ketika harga energi meningkat, beban subsidi negara ikut melonjak untuk menjaga harga tetap terjangkau bagi masyarakat. Pada periode krisis energi global sebelumnya, anggaran subsidi energi Indonesia bahkan mencapai lebih dari Rp500 triliun.

Besarnya alokasi subsidi tersebut menunjukkan bahwa energi bukan hanya persoalan sektor industri, tetapi menyangkut perlindungan sosial dan keberlanjutan ekonomi nasional. Tingginya beban subsidi juga berdampak pada terbatasnya ruang fiskal pemerintah dalam membiayai sektor strategis lain seperti pendidikan, kesehatan, dan pembangunan infrastruktur.

Dari sisi masyarakat, akses energi yang stabil menjadi faktor penting dalam meningkatkan produktivitas ekonomi. Ketersediaan listrik yang andal memungkinkan pelaku UMKM menjalankan usaha secara optimal, mulai dari produksi pangan, penyimpanan hasil usaha, hingga pemanfaatan teknologi digital untuk pemasaran.

Namun demikian, kesenjangan akses energi masih menjadi tantangan di sejumlah wilayah Indonesia. Meskipun rasio elektrifikasi nasional telah melampaui 99 persen, kualitas pasokan listrik di daerah terpencil dan kepulauan masih belum sepenuhnya stabil. Kondisi ini berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi lokal serta peluang peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Sekjen Dewan Energi Nasional, Dr. Ir. Dadan Kusdiana, menambahkan bahwa ketergantungan Indonesia terhadap impor energi turut memberikan tekanan terhadap nilai tukar dan cadangan devisa nasional. Produksi minyak domestik yang berada di kisaran 600 ribu barel per hari masih jauh di bawah kebutuhan nasional yang mencapai lebih dari 1,5 juta barel per hari.

Menurutnya, penguatan ketahanan energi melalui diversifikasi sumber energi domestik menjadi langkah penting untuk menjaga stabilitas ekonomi jangka panjang. Pemanfaatan energi baru dan terbarukan tidak hanya berkontribusi terhadap keberlanjutan lingkungan, tetapi juga mampu mengurangi risiko ekonomi akibat fluktuasi harga energi global.

Sementara itu, M. Zeinny menekankan bahwa transisi energi juga membuka peluang ekonomi baru bagi Indonesia. Pengembangan energi terbarukan berpotensi menciptakan lapangan kerja hijau, mendorong investasi daerah, serta memperkuat pertumbuhan industri berbasis teknologi energi masa depan.

Forum diskusi turut menyoroti pentingnya optimalisasi Dana Bagi Hasil sektor energi sebagai instrumen pemerataan pembangunan daerah. Melalui pengelolaan yang tepat, dana tersebut dapat digunakan untuk memperkuat infrastruktur energi lokal, meningkatkan kualitas pendidikan, serta mendorong pertumbuhan ekonomi daerah secara berkelanjutan.

Para narasumber sepakat bahwa ketahanan energi pada akhirnya merupakan instrumen perlindungan ekonomi masyarakat. Energi yang terjangkau, stabil, dan berkelanjutan menjadi fondasi utama bagi pertumbuhan ekonomi inklusif serta peningkatan kesejahteraan nasional.

“Ketahanan energi bukan hanya menjaga pasokan listrik atau bahan bakar, tetapi memastikan masyarakat tetap produktif, ekonomi tetap stabil, dan pembangunan berjalan berkelanjutan,” ujar Dr. Desy Ratnasari menutup diskusi.***