Jendelakaba.com — Perkembangan teknologi digital membuka peluang besar bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk memperluas pasar, meningkatkan efisiensi operasional, serta membangun bisnis yang lebih kompetitif.
Penggunaan media sosial, platform perdagangan elektronik, sistem pembayaran digital, hingga kecerdasan buatan (AI) dapat menjadi sarana bagi pelaku usaha untuk menjangkau konsumen tanpa harus mengandalkan pemasaran konvensional.
Hal tersebut disampaikan Abdul Muis Aad, pengusaha dan inovator teknologi sekaligus Founder MPStore, dalam kegiatan Sosialisasi Merajut Nusantara bertema “Kreatif Berkarya Cerdas Bermedia dan Bijak Berkonten” pada Jumat, 9 Oktober 2026.
Dalam pemaparannya, Abdul Muis menjelaskan bahwa UMKM merupakan salah satu kekuatan penting dalam perekonomian Indonesia. Karena itu, digitalisasi menjadi langkah strategis untuk membantu pelaku usaha meningkatkan kemampuan bisnis sekaligus beradaptasi dengan perubahan perilaku konsumen.
Ia menyampaikan bahwa MPStore dikembangkan untuk membantu warung kelontong dan UMKM melalui ekosistem digital yang mencakup pembayaran, rantai pasok, pencatatan keuangan, serta pemanfaatan teknologi untuk mendukung kegiatan usaha.
Salah satu inovasi yang dikembangkan adalah pemanfaatan kecerdasan buatan untuk membantu operasional warung, termasuk menangani pesanan melalui tautan percakapan, menghubungkan layanan logistik, dan menyediakan fasilitas pembayaran digital.
Menurutnya, teknologi tersebut dapat membantu pelaku usaha yang memiliki keterbatasan tenaga kerja agar tetap mampu melayani pelanggan secara lebih efektif.
Abdul Muis menilai bahwa peluang bisnis digital terbuka bagi siapa saja, termasuk masyarakat yang tinggal di daerah. Dengan menggunakan telepon pintar, pelaku usaha dapat memperkenalkan produk, membangun komunikasi dengan konsumen, dan menjangkau pasar yang sebelumnya sulit diakses.
Ia juga menyoroti pentingnya konten digital dalam membangun perhatian dan kepercayaan konsumen. Produk yang berkualitas perlu didukung dengan penyampaian informasi yang menarik agar masyarakat mengenal manfaat dan keunggulannya.
Pelaku usaha tidak harus selalu memiliki produk sendiri untuk memulai bisnis digital. Mereka juga dapat mengembangkan usaha melalui pemasaran produk pihak lain, jasa, maupun aktivitas perdagangan yang sesuai dengan kemampuan masing-masing.
Sebagai contoh, ia menceritakan keberhasilan seorang penjaga warung Madura yang memanfaatkan TikTok untuk mempromosikan produk-produk yang dijual di warungnya. Melalui konsistensi membuat konten, aktivitas sederhana tersebut berkembang menjadi peluang usaha dan sumber penghasilan baru.
Menurut Abdul Muis, pengalaman tersebut menunjukkan bahwa keterbatasan modal maupun kepemilikan produk bukan selalu menjadi penghalang untuk memulai usaha. Kemauan belajar, kreativitas, konsistensi, dan kemampuan membangun kepercayaan merupakan faktor penting dalam mengembangkan bisnis.
Ia mendorong peserta untuk menentukan bidang yang ingin ditekuni secara lebih spesifik, kemudian membangun konten berdasarkan minat, keterampilan, atau produk yang dikuasai.
Selain itu, pelaku usaha perlu memanfaatkan media sosial secara produktif, bukan hanya untuk menonton konten atau melakukan pembelian impulsif. Waktu yang dihabiskan di ruang digital dapat dialihkan untuk belajar, memasarkan produk, serta membangun jaringan bisnis.
Dalam kesempatan tersebut, Abdul Muis juga menekankan pentingnya menjaga integritas. Menurutnya, popularitas di media sosial tidak selalu berbanding lurus dengan kepercayaan masyarakat.
Konten yang viral mungkin dapat menarik perhatian dalam waktu singkat, tetapi reputasi bisnis dibangun melalui konsistensi, kejujuran, kualitas pelayanan, dan tanggung jawab terhadap pelanggan.
Ia mengingatkan pelaku UMKM agar menjaga data pribadi konsumen serta tidak menyebarkan informasi identitas seseorang secara sembarangan, termasuk ketika menghadapi persoalan transaksi atau utang-piutang.
Pemanfaatan teknologi juga harus disertai kewaspadaan terhadap penipuan digital. Pelaku usaha perlu melindungi akun, menggunakan verifikasi dua langkah, menjaga kerahasiaan kode OTP, dan memeriksa kebenaran informasi sebelum melakukan transaksi.
Sementara itu, Ir. Woro Indah Widiastuti dalam kegiatan yang sama menyoroti besarnya potensi ekonomi digital bagi masyarakat Madura. Ia mendorong pelaku usaha untuk mengangkat keunikan produk dan budaya lokal melalui konten yang kreatif.
Produk seperti batik gentongan Tanjung Bumi, sate Madura, hasil laut, serta berbagai kerajinan lokal dapat dipromosikan melalui media sosial dan platform perdagangan elektronik untuk menjangkau konsumen yang lebih luas.
Menurutnya, cerita mengenai proses produksi, nilai budaya, dan keunikan produk dapat menjadi daya tarik tersendiri yang membedakan produk lokal dari pesaingnya.
Melalui kegiatan Sosialisasi Merajut Nusantara ini, masyarakat diharapkan semakin terdorong untuk memanfaatkan teknologi secara produktif, mengembangkan kreativitas, dan membangun usaha yang berkelanjutan.
Digitalisasi diharapkan tidak hanya meningkatkan kemampuan pelaku UMKM dalam memasarkan produk, tetapi juga membuka kesempatan ekonomi baru serta memperkuat daya saing usaha lokal di tengah perkembangan ekonomi digital.***






