Jakarta, 28 April 2025 — Di tengah derasnya arus digital, masyarakat didorong untuk tidak hanya membatasi penggunaan gadget pada anak, tetapi juga mengarahkannya menjadi sarana pembelajaran yang produktif. Hal ini menjadi kesimpulan utama dalam webinar literasi digital yang digelar Selasa (28/4).
Para narasumber sepakat bahwa pendekatan yang terlalu kaku dalam membatasi penggunaan gadget justru kurang efektif. Sebaliknya, strategi berbasis kesepakatan dan keterlibatan anak dinilai lebih berhasil.
Salah satu strategi yang disoroti adalah mengubah fokus dari durasi penggunaan menjadi kualitas aktivitas. Anak didorong untuk menggunakan teknologi sebagai alat eksplorasi pengetahuan dan pengembangan keterampilan.
Selain itu, orang tua dianjurkan untuk menyediakan alternatif kegiatan yang menarik agar anak tidak bergantung sepenuhnya pada gadget. Aktivitas kreatif, hobi, dan interaksi keluarga menjadi kunci keseimbangan.
Dalam sesi diskusi, juga ditegaskan bahwa teknologi dapat menjadi sarana efektif untuk mengembangkan kreativitas dan berpikir kritis anak. Platform digital memungkinkan anak untuk belajar coding, desain, hingga membuat konten edukatif.
Namun demikian, risiko seperti hoaks, cyberbullying, dan eksploitasi data tetap menjadi ancaman nyata. Oleh karena itu, pendampingan aktif dari orang tua menjadi sangat penting.
Pendekatan berbasis dialog, bukan larangan, menjadi salah satu solusi utama. Anak diajak memahami alasan di balik aturan, sehingga tumbuh kesadaran dari dalam diri.
Selain keluarga, kolaborasi dengan sekolah dan komunitas juga diperlukan untuk memperluas dampak literasi digital secara merata.
Webinar ini menegaskan bahwa kunci utama bukan pada seberapa cepat anak menguasai teknologi, tetapi seberapa bijak mereka menggunakannya.
Dengan strategi yang tepat, anak-anak Indonesia diharapkan mampu bertransformasi dari sekadar pengguna menjadi kreator yang membawa dampak positif di era digital.






