Jendelakaba.com//Kunjungan ke dua tim I safari ramadan Kabupaten Dharmasraya. Kali ini terlihat suasana langit Nagari Sungai Rumbai Timur agak memerah ketika azan magrib hampir tiba. Di Jorong Bukit Berbunga, warga berdatangan ke Masjid Al – Ikhlas dengan langkah yang lebih ringan dari biasanya. Anak – anak berlarian kecil di pelataran, para ibu menata takjil, para lelaki bersalaman dalam senyum yang hangat. Di bulan suci, kampung itu seperti menemukan denyutnya kembali, pelan, khusyuk, tetapi penuh harap.
Di tengah suasana itu, rombongan Tim I Safari Ramadan dari Kabupaten Dharmasraya tiba. Dipimpin Bupati Dharmasraya, Annisa Suci Ramadhani, S.H, LLM Jumat (27/02/2026). Kunjungan ini menjadi bagian dari ikhtiar merawat silaturahmi sekaligus mendengar suara akar rumput. Bukan sekadar agenda tahunan, melainkan ruang temu antara kuasa dan warga, antara kebijakan dan kebutuhan.
Selain bupati, dalam rombongan itu juga terlihat hadir Kapolres Dharmasraya Kartyana Widyarso WP, S.I.K, M.A.P, Kepala Lapas Kelas III Dharmasraya Ferdika Canra,A.Md, S.H, M.H , Asisten III Ronie Puska,S.T, Kepala BKD Martin Yunus, M.Eng, Kepala UPTD Samsat Jon Efrizal, Plt, Ketua LKAAM Dharmasraya H.Marlon Martua, Dt. Rangkayo Mulie, S.E bersama dengan Ny. Rafnelly Rafki Marlon.
Kemudian disusul Kepala Kantor Kementerian Agama Dharmasraya, H. Masran, S.Ag, M.Ag, Ketua MUI Dharmasraya H. Aminullah Salam, SMIQ, perwakilan dari tokoh masyarakat Mulyadi, S.Ag serta jajaran pejabat daerah dan unsur Forkopimda. Hadir pula Kepala Cabang Bank Nagari Pulau Punjung Rusli dan Kepala Cabang Koto Baru Ardiansyah. Anggota DPRD Dharmasraya tidak tampak dalam kunjungan tersebut.
Sebelum berbuka bersama di aula Kantor Wali Nagari Sungai Rumbai Timur, Ketua MUI Dharmasraya H. Aminullah Salam, SMIQ, menyampaikan tausiyah. Ia berbicara tentang syukur, kata sederhana yang kerap terdengar, namun tak selalu mudah dijalani. “Sebagai manusia kita harus bersyukur atas nikmat kesehatan, kebersamaan, persatuan, keamanan dalam keluarga dan masyarakat, serta nikmat makanan,” ujarnya.
Di bulan Ramadan, katanya, syukur tak cukup diucapkan. Ia mesti diwujudkan dengan meninggalkan larangan dan menjalankan perintah-Nya. Di sanalah makna berbagi menemukan relevansinya. Memberi makan orang yang berpuasa, menguatkan yang lemah, merawat persaudaraan, itulah ibadah sosial yang sering kali lebih berat daripada menahan lapar.
Seusai berbuka, rombongan bergerak ke Masjid Al – Ikhlas untuk sholat Isya dan Tarawih berjamaah. Saf – saf yang rapat memperlihatkan kesetaraan yang hakiki, pejabat, aparat, rokoh adat dan warga berdiri sejajar, tunduk dalam doa yang sama. Di hadapan Tuhan, jabatan luruh, yang tersisa hanya manusia dengan segala harap dan cemasnya.
Wali Nagari Sungai Rumbai Timur, Arisman Bagindo Sutan,S.Sos didampingi Wali Nagari Sungai Rumbai Sutan Rizki menyambut rombongan dengan bahasa Minang yang mengalir hangat. “Kalau datang indak tasalami, makan kurang kanyang, minum kurang sajuak, kami mohon maaf sebesar – besarnya,” ucapnya, disambut senyum hadirin.
Kerendahan hati itu terasa tulus, cermin dari budaya yang menjunjung hormat dan kebersamaan.Namun di balik keramahan, ada suara yang perlu didengar. Jalan blok B Sitiung III sepanjang 1,7 kilometer yang rusak berat menjadi salah satu aspirasi utama warga. Begitu pula rencana pembangunan jalan lingkar di samping SMPN 1 Sungai Rumbai lebih kurang 500 meter.
” Infrastruktur ini bukan sekadar beton dan aspal, ia adalah akses anak – anak menuju sekolah, jalur petani mengangkut hasil panen, dan denyut ekonomi keluarga ” katanya.
Arisman lalu menarik ingatan ke belakang, ke masa – masa awal berdirinya masjid itu. Dengan suara yang sedikit lirih, ia menuturkan bahwa rumah ibadah tersebut tak lahir begitu saja. Ada jejak sejarah dan peran penting di baliknya.
Masjid ini, kata dia, berdiri berkat bantuan pak Marlon, ayah dari Buk Bupati, ketika menjabat sebagai bupati definitif pertama Kabupaten Dharmasraya periode 2005 – 2010. Di masa itu, situasinya tidak sederhana. Lahan tempat masjid ini berdiri masih berstatus milik Kehutanan Provinsi Sumatera Barat. Prosesnya tidak mudah, penuh ikhtiar dan pendekatan yang panjang.
“Inilah satu-satunya masjid yang bisa berdiri di sini pada masa itu,” ucap Arisman pelan, seakan mengulang kembali kenangan yang tak lekang oleh waktu.Bagi warga, bangunan ini bukan sekadar tempat bersujud. Ia adalah simbol kegigihan, buah dari perjuangan yang senyap. Di atas tanah yang dulu penuh keterbatasan, kini berdiri ruang yang mempersatukan doa, harapan, dan sejarah panjang sebuah nagari.
Kemudian di lanjutkan ceramah oleh Kepala Kantor Kementerian Agama Dharmasraya, H. Masran, S.Ag, M.Ag. Ia menilai potensi keagamaan di wilayah tersebut berkembang pesat karena sinergi tokoh agama, tokoh adat, dan organisasi masyarakat.
“Sesungguhnya orang beriman itu bersaudara. Puasa Ramadan menghapus dosa masa lalu. Di sinilah kita memperkuat ukhuwah Islamiyah, menjauhi fitnah dan gibah yang dapat menggerus pahala puasa,” katanya.
Di hadapan jamaah, Bupati Annisa tak menutup – nutupi situasi fiskal daerah. Ia mengakui, tahun ini Dharmasraya menghadapi efisiensi dan defisit anggaran. “Di awal tahun kita dilanda efisiensi dan defisit anggaran. Tapi alhamdulillah, kita tetap bisa membangun,” ujarnya.
Pernyataan itu bukan tanpa risiko. Di tengah keterbatasan, setiap janji menjadi taruhan kredibilitas. Annisa memastikan perbaikan Jalan Sitiung III telah dianggarkan tahun ini. Jalan lingkar SMPN 1 Sungai Rumbai akan diupayakan terealisasi. Pemerintah daerah juga merencanakan pelebaran jalan masuk pasar lama serta perbaikan drainase Pasar Modern Sungai Rumbai agar aktivitas ekonomi lebih tertata.
Ia juga menyinggung program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Sungai Rumbai yang menjangkau sekitar 800 penerima manfaat, ini sebuah upaya menjaga kualitas generasi di tengah tekanan ekonomi.
Di akhir kegiatan, bantuan untuk Masjid Al – Ikhlas diserahkan, voucher senilai Rp10 juta, dua gulung tikar, dan Alquran. Bank Nagari Cabang Koto Baru turut memberikan dukungan serupa. Nilainya mungkin tak spektakuler, tetapi simboliknya kuat yakni bahwa negara, melalui pemerintah daerah, hadir dalam ruang – ruang ibadah dan kebersamaan.
Malam semakin larut ketika jamaah bubar perlahan. Anak-anak kembali berlarian, para orang tua bercengkerama sebelum pulang. Di Sungai Rumbai Timur, Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar. Ia tentang merawat harapan, bahwa jalan yang rusak akan diperbaiki, pasar akan ditata, dan kebersamaan tetap terjaga.
Di antara doa yang melangit dan defisit yang membumi, ada nyala kecil yang terus dijaga. Nyala itu bernama kepercayaan. Dan seperti lilin di malam gelap, ia hanya akan tetap hidup jika dilindungi oleh komitmen yang nyata.***






