Jendelakaba.com— Perspektif praktis mengenai pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis di lapangan mengemuka dalam Forum Diskusi Publik yang digelar Selasa, 10 November 2025. Charles M.T. Sitohang, pemilik salah satu Dapur MBG yang menjadi penyedia makanan bergizi untuk siswa, memaparkan bahwa program ini telah membawa dampak nyata bagi kesehatan anak sekaligus menggerakkan ekonomi lokal.
Charles menjelaskan bahwa banyak anak datang ke sekolah tanpa sarapan, terutama di daerah pinggiran. Kondisi ini membuat makanan bergizi yang disediakan program menjadi penyangga utama energi mereka sepanjang hari. Menurut laporan guru-guru di sekolah mitra, sejak program berjalan, siswa terlihat lebih fokus dan lebih jarang mengantuk. Bahkan beberapa sekolah melaporkan penurunan angka ketidakhadiran.
“Dampaknya bukan hanya kesehatan jangka pendek. Anak-anak mulai mengenal sayur baru, membentuk kebiasaan makan sehat, dan pola konsumsi mereka berubah,” ujar Charles. Ia menambahkan bahwa riset global menunjukkan asupan gizi dapat meningkatkan kemampuan kognitif hingga 20–40 persen.
Dalam operasional dapur, Charles menempatkan transparansi sebagai prinsip utama. Setiap bahan makanan dicatat asal-usulnya dan proses pengolahan didokumentasikan harian. Hal ini bertujuan untuk menjaga kualitas sekaligus memberi ruang bagi masyarakat untuk mengawasi. Ia juga mendorong penggunaan teknologi seperti barcode tracking atau aplikasi pelaporan harian agar publik dapat memantau menu dan kualitas makanan yang diterima siswa.
Program ini juga dinilai memberi dampak ekonomi yang signifikan. Banyak dapur MBG memprioritaskan bahan dari petani lokal, koperasi desa, hingga UMKM pangan setempat. Dengan kebutuhan yang konsisten setiap hari sekolah, rantai pasok lokal bergerak dan pendapatan petani meningkat.
Meski begitu, Charles mengakui bahwa tantangan tetap ada. Perbedaan kondisi geografis membuat perencanaan menu harus fleksibel. Fasilitas sekolah yang terbatas juga kerap menjadi kendala sehingga kolaborasi dengan orang tua dan sekolah sangat dibutuhkan dalam proses distribusi.
Menurutnya, keberhasilan program sangat bergantung pada kolaborasi seluruh pihak—dari pemerintah daerah, dunia usaha, sekolah, hingga masyarakat. “Jika semua berjalan seirama, satu piring makan bergizi setiap hari bisa menjadi pondasi masa depan anak-anak Indonesia,” ungkapnya.
Charles menutup pemaparannya dengan pesan bahwa perhatian negara pada makanan anak bukan hanya kebijakan teknis, tetapi wujud nyata investasi jangka panjang bagi ketahanan bangsa di masa depan.***






