Jendelakaba.com— Kampanye keselamatan digital (Digital Safety Campaign) kini menjadi fokus utama dalam penguatan literasi masyarakat, khususnya di lingkungan Sekolah Rakyat. Hal ini disampaikan dalam Forum Diskusi Publik bertema “Digital Safety Campaign: Sekolah Rakyat Sebagai Pemutus Rantai Kemiskinan” yang digelar pada Rabu, 5 November 2025.
Anggota Komisi I DPR RI, Elnino M. Husein Mohi, ST., M.Si., menegaskan bahwa keselamatan digital merupakan fondasi penting bagi keberlanjutan pendidikan dan pemberdayaan masyarakat. Menurutnya, kesenjangan literasi digital masih menjadi tantangan besar yang harus segera diatasi.
“Indeks literasi digital nasional tahun 2024 baru mencapai 3,65 dari skala 5. Ini artinya masih banyak masyarakat, terutama di pedesaan, yang belum mampu menggunakan teknologi secara aman dan bertanggung jawab,” jelas Elnino.
Ia menambahkan bahwa kemiskinan tidak hanya berkaitan dengan ekonomi, tetapi juga dengan akses informasi dan kemampuan digital. Data BPS 2023 menunjukkan 27% masyarakat miskin belum memiliki akses internet memadai, sementara 35% tidak memiliki perangkat layak untuk pembelajaran digital.
Elnino menilai kondisi ini memperlebar ketimpangan sosial. Karena itu, Sekolah Rakyat dapat berperan vital sebagai pusat literasi digital dan ruang pendidikan alternatif. Berbagai praktik edukasi seperti pengenalan hoaks, proteksi data pribadi, hingga pencegahan pinjaman online ilegal harus menjadi bagian dari pembelajaran.
“OJK mencatat ada lebih dari 5.000 kasus korban pinjaman online ilegal sepanjang 2024. Rendahnya literasi digital membuka pintu bagi eksploitasi digital,” ujarnya.
Lebih jauh, Elnino menyebut digitalisasi justru bisa menjadi peluang besar apabila literasi digital diperkuat. Melalui pelatihan keamanan digital dan pemanfaatan teknologi untuk ekonomi masyarakat, Sekolah Rakyat bisa menjadi motor penggerak pemberdayaan ekonomi lokal.
Ia menekankan bahwa kampanye keselamatan digital harus menjadi gerakan kolaboratif antara pemerintah, komunitas, dan masyarakat. “Kemerdekaan digital bukan hanya soal akses, tetapi kemampuan untuk menggunakan teknologi dengan aman dan bermanfaat,” tutupnya.***






