Jendelakaba.com-Stunting masih menjadi masalah serius yang mengancam kualitas generasi masa depan Indonesia. Meski penurunan angka stunting tercatat dari 21,6% di tahun 2022 menjadi 18,9% pada 2023, target pemerintah untuk menekan angka hingga 14% pada 2024 dinilai masih penuh tantangan.
Dalam Forum Diskusi Publik “Series 2: Pencegahan Stunting” yang digelar Jum’at, 29 Agustus 2025, sejumlah pakar hadir memberikan pandangan, di antaranya Dr. Rulli Nasrullah, M.Si., seorang pakar kebudayaan digital, dan Yanto, Ph.D., akademisi dari Unika Atmajaya.
Dr. Rulli menjelaskan, stunting bukan sekadar persoalan anak pendek, tetapi kondisi kegagalan tumbuh akibat gizi buruk kronis yang berdampak pada perkembangan otak dan kesehatan jangka panjang. “Dampak stunting bukan hanya dirasakan individu, tetapi juga keluarga dan negara. Ini ancaman nyata bagi daya saing bangsa,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa faktor penyebab stunting sangat beragam, mulai dari gizi yang buruk, sanitasi tidak layak, hingga kondisi sosial ekonomi keluarga. Oleh karena itu, upaya pencegahan harus dilakukan dari hulu, yaitu sejak masa kehamilan dengan memperhatikan asupan nutrisi ibu, pemberian ASI eksklusif, hingga pemenuhan gizi seimbang untuk anak.
Yanto, Ph.D. menambahkan, pemerintah sebenarnya sudah memiliki sejumlah regulasi, seperti Perpres No. 72 Tahun 2021 tentang Percepatan Penurunan Stunting dan Rencana Aksi Nasional 2021–2024. Namun, efektivitas program sangat bergantung pada partisipasi masyarakat. “Posyandu, penyuluhan gizi, hingga gerakan hidup bersih di tingkat RT dan RW adalah contoh peran komunitas yang tidak bisa diabaikan,” jelasnya.
Keduanya menekankan bahwa literasi digital memiliki peran penting. Di satu sisi, internet menjadi sarana edukasi gizi, pola asuh, dan kesehatan anak. Namun di sisi lain, banyak hoaks yang justru menyesatkan masyarakat. Maka, kemampuan memilah informasi harus terus diperkuat agar orang tua tidak salah langkah dalam merawat anak.
Masalah akses internet yang belum merata, khususnya di daerah 3T, juga menjadi perhatian utama. Tanpa pemerataan literasi digital, informasi kesehatan tidak akan tersampaikan secara optimal.
Para pembicara sepakat bahwa pencegahan stunting adalah investasi jangka panjang untuk menciptakan generasi emas Indonesia pada tahun 2045. “Jika anak-anak tumbuh sehat, cerdas, dan kuat, maka bangsa ini akan memiliki daya saing global yang tinggi. Namun bila kita gagal, maka beban besar akan diwariskan kepada generasi berikutnya,” pungkas Dr. Rulli.***






